Tuesday, April 28, 2020

Kebaikan yang tidak bermakna

Catatan#18
Kebaikan yang tidak bermakna

Subuh hari keenam ini tadarus kami membaca surat Al Kahfi dan masuk ke surat maryam. Ayat terpilih untuk diterjemahkan ialah QS Al Kahfi ayat 103-108.

Allah  telah memberikan perumpamaan amal yang paling merugi, yaitu ketika seseorang berbuat keburukan (dalam ukuran Allah) tetapi menganggap dan meyakini bahwa itu adalah kebaikan. Mengapa 'kebaikan' itu sebetulnya sesat, karena pelakunya tidak mendasari perbuatannya dengan keimanan kepada ayat-ayat Allah dan hari akhir -(serta 4 rukun iman lainnya). Perbuatan baik tersebut pada akhirnya tidak diperhitungkan dan tidak ada sama sekali manfaatnya dihari kiamat.

Karenanya, ukuran kebaikan bukan sekedar berdasarkan ukuran kita, tetapi harus berdasarkan kebaikan agama yang didasari keimanan.

Ketika orang telah beriman, kemudian beramal Sholeh (berbuat baik), maka akan mendapatkan balasan surga firdaus. Kekal didalamnya dan tidak mau berpindah lagi (karena merasakan nikmatnya surga firdaus).

Monday, April 27, 2020

Taat

Catatan #17
Taat

Ada lima ketaatan yang semestinya menjadi kepribadian seorang muslim, yaitu ketaatan. Kelima hal itu ialah :
1. Taat kepada Allah; dalam Al Qur'an banyak sekali perintah untuk taat kepada Allah. Seorang muslim yang baik tentu adalah muslim yang taat melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
2. Taat kepada Rasul; Rasul adalah nabi dan utusan Allah. Ketaatan kepada Rasul adalah bukti ketaatan kepada Allah. Mengapa? Syariat yang dibawa para rasul hakekatnya merupakan  penjabaran dari syariat Allah. Karenanya Rasulullah bersabda ; _barangsiapa mentaatiku maka sesungguhnya dia telah  mentaati Allah._ sebaliknya _barangsiapa bermaksiat/melanggar syariat yang aku bawa, maka dia telah bermaksiat/melanggar syariat Allah._
3. Taat kepada Ulil Amri; Ulil Amri sering diartikan sebagai pemegang urusan (umat), dalam hal ini ialah pemerintah. Pemerintahan yang baik tidak semestinya bertentangan dengan lima tujuan syariat, yaitu melindungi agama,  jiwa, harta, nasab/keturunan dan melindungi akal. Sejauh kebijakannya tidak bertentangan dengan syariat dan tidak mengajak/memerintahkan maksiat maka pemimpin ini harus diikuti.
4. Taat kepada orang tua; mungkin taat kepada orang tua didahulukan daripada taat kepada pemimpin. Mengapa? Karena orang tualah sebab hadirnya kita dimuka bumi ini, yang mendidik dan membesarkan kita. Hingga Rasulullah bersabda ; _ridha Allah terletak pada ridhanya kedua orang tua_. Tentu sejauh tidak memerintahkan kepada kemaksiatan kepada Allah.
5. Taat kepada guru; mungkin tidak ada dalil khusus terkait ketaatan kepada guru. Hanya saja ilmu akan sampai kepada kita melalui guru. Guru yang baik akan mengajarkan kebaikan dan kebaikan yang diajarkan kepada kita tentu harus ditaati. Secara umum tidak ada guru yang mengajarkan sesuatu yang mengajarkan kemaksiatan. Guru disini bisa saja disebut dosen, ustadz, kyai, lebay, tuan guru dan istilah lain yang menjadi suluh bagi manusia dalam menempuh kehidupan.
Iblis dari jin

Catatan #15
Iblis dari jin

Subuh hari kelima kami masih membaca surat Al Kahfi. Ayat 50 terpilih untuk diterjemahkan.

Allah telah menciptakan Adam dan akan diutus untuk menjadi Khalifah dimuka bumi. Ketika Allah perintahkan malaikat (dan makhluk lain) untuk bersujud (bukan ibadah) sebagai wujud penghormatan, semua makhluk bersujud kecuali iblis. Iblis ini fasiq (mengingkari) terhadap perintah Allah karena merasa lebih mulia dari manusia dalam aspek bahan awal penciptaan. Iblis diciptakan dari api sementara Adam 'hanya' dari tanah. Karenanya Iblis dilaknat oleh Allah untuk menjadi penghuni neraka dan meminta ijin kepada Allah untuk menggoda manusia.

Allah mengingatkan agar manusia tidak menjadikan iblis dan keturunannya sebagai teman apalagi penolong karena iblis adalah musuh manusia.

Iblis termasuk golongan jin.

Sebagai pengetahuan, disamping manusia,  makhluk Allah ada malaikat yang selalu taat kepada Allah dan ada jin.

Jin sendiri ada yang taat dan ada yang menentang Allah, inilah yang disebut iblis.

Sedangkan syaitan pada dasarnya adalah sifat (jin kafir) yang selalu mengajak mengingari Allah.
Sabar

Catatan #14
Sabar

Kultul malam hari kelima, Senin  26/4/2020, ini mulai bergilir. Untuk percontohan dan memberi semangat, ibu (istriku) dapat giliran pertama tampil.

Materi yang disampaikan ialah tentang sabar. Sabar setidaknya mencakup tiga hal, yaitu sabar dalam melaksanakan perintah, sabar dalam meninggalkan larangan dan sabar dalam menerima takdir atau ketentuan Allah. Ketiganya memerlukan kesabaran.
Dengan pemberitahuan sebelumnya harapannya sudah ready on call, tetapi ternyata memang berbicara yang runut, sistematis dan mudah dipahami membutuhkan persiapan dan jam terbang yang tinggi. Bagi pembicara 'pemula', ternyata tidak cukup mengandalkan ingatan semata. Dari sini semua anggota keluarga perlu terus belajar.

Friday, April 10, 2020

Covid-19, Bahtera Nabi Nuh, Ramadhan dan Mudik lebaran, serta Haji 2020

Dalam surat Hud ayat 25 sampai 49, Allah kisahkan betapa Dakwah Nabi Nuh yang penuh tantangan. Akhirnya Allah murka dan hendak menghancurkan umat pada waktu itu. Allah perintahkan Nabi Nuh membuat kapal, padahal tempatnya adalah di gurun pasir yang tandus, karenanya Nabi Nuh semakin dicemooh dan bahkan dianggap gila. Singkat cerita, setelah kapal jadi, Allah wahyukan kepada nabi Nuh agar mengajak umatnya naik kapal termasuk dengan membawa beraneka ragam binatang dan apapun yang perlu diselamatkan. Jangan hairaukan juga umat yang dhalim kepada Allah, menentang dakwah nabi Nuh.

Setelah semua masuk, Nabi nuh mencari istrinya ternyata tidak ada dan tidak mau diajak naik kapal karena terpengaruh omongan orang bahwa Nuh gila. Demikian juga anaknya, Kan'an, ia tidak mau menuruti perintah dan ajakan ayahnya. Ia akan tetap tinggal dan yakin pasti selamat. Ketika Nabi Nuh menyampaikan tidak akan ada yang selamat selain yang di kapal, Kan'an masih yakin dan bahkan pongah karerna ia akan memanjat pohon atau gunung tertinggi kalau memang benar-benar terjadi air bah/banjir.

Istri dan anak Nabi Nuh akhirnya tenggelam bersama umat yang tidak mau mendengar seruan dakwah dan tidak bersedia "menyelamatkan diri" dengan naik perahu yang dibuat nabi Nuh.

Kisah Nabi Nuh ini mungkin bisa kita ambil ibrah atau hikmah.

Merebaknya pandemi virus corona (Covid-19) awalnya hanya terjadi di sebuah kota kecil di Cina bernama Wuhan. Sebabnyapun sepele, yaitu kebiasaan masyarakat mengkonsumsi Ular dan Kelelawar serta binatang liar lain, sesuatu yang secara umum mesinya tidak dikonsumsi oleh manusia pada umumnya. Karena itulah lalu orang mencibir dan membuat stigma negatif terhadap perilaku warga Wuhan tersebut. 
Dan memang, semua yang terjadi di muka bumi ini adalah karena perbuatan tangan (kesalahan) kesahalan manusia. Allah berfirman dalam qs. Asy-Syura (42) : 30

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).


Tidak berhenti di Wuhan, virus Corona akhirnya menyebar keseluruh penjuru dunia hingga WHO, Organisasi Kesehatan Dunia menetapkannya sebagai pandemi. Saat itu kita masih santai dan percaya diri bahwa tidak akan sampai ke Indonesia. Kenapa? banyak alasan bisa kita sebut, dari secara geografis karena kita jauh dari Wuhan Cina, karena kita tidak mengkonsumsi ular dan kelelawar, karena kita betaqwa, karena kita dekat dengan tuhan dan berbagai alibi bisa kita buat. 
Kita lupa bahwa ketika Allah menguji manusia, semua akan diuji. Kita lupa bahwa Allah tidak bisa kita batasi. Dimana Allah memilih tempat, kemana virus itu akan menyebar, kepada siapa virus itu akan hinggap sampai terpapar, bahkan siapa saja yang akan sembuh dan atau siapa yang meninggalpun telah tertulis disisi Allah. Hal itu sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al Hadid (57) : 22

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah


Lalu kita masih merasa 'jumawa' sehingga tetap saja "berbondong-bondong" keluar rumah, ke Mall, ke pasar, ke restaurant, bahkan ke masjid dengan 'mengabaikan' anjuran Pemerintah untuk memakai masker, tinggal dirumah, hindari kerumuman bahkan anjuran untuk sementara tidak berjamaah di masjid, bahkan menghentikan sementara jamaah sholat jumat dan tetap melakukanberibadah dirumah. Fatwa lembaga keagamaan semacam MUI, Muhammadiyah, NU dan para ulama kita yang dapat dikatakan merepresantatsi umara dan ulama. tetap saja kita 'abaikan'. Alasannyapun logis, justru kita harus mendekat kepada Allah, dan tempat yang terbaik adalah masjid, serta alasan lain.

Baca juga : Pahala rukhshoh Sam dengan pahala amal biasanya

Bukan pesimis, tetapi apabila kita tetap 'pongah' merasa diri dekat dengan Allah. Dan memang kita harus terus mendekat kepada Allah. Tetapi Allah sendiri memerintahkan kita untuk mendahulukan menghindari mafsadat (kerusakan) daripada mengambil manfaat. Jangan sampai kita seperti Kan'an yang tidak mau mendengar. Ingatlah bahwa Allah telah berfirman dalam Qs. Al Anfal (8): 25

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةًۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.

Oke, kalaupun kita terkena bukan karena kedhaliman yang kita lakukan, tetapi janganlah pula kita mati konyol tanpa berikhtiar menjauh dan menyeleamatkan diri dari ujian ini. 

Mari belajar kepada para nabi, rasul dan sahabat, selain Nabi Nuh yang harus membuat kapal padahal ditengah padang pasir tandus dan gersang, masih banyak ibrah lainnya. Sebutlah  Nabi Ibrahim, beliau kuat aqidahnya dan tentu orang yang takwa, tetapi ia tetap saja "menghindar" dari kekejaman raja Namrud. atau Nabi Musa bersama umatnya yang harus lari dari kejaran fir'aun meski akhirnya fir'an yang ditenggelamkan oleh Allah di sungai Nil. Demikian juga. Nabi Muhammad yang harus bersembunyi di gua Tsur hingga akhirnya sampai madinah, adalah karena menghindar dari kebrutalan kamu kafir quraiys. Abubakar yang sangat pemberanipun ternyata juga "menghindar' dari penyakit Thaun. 
Itu semua bukan karena takut mati, melainkan untuk tetap bertahan hidup dan mempertahankan akidah dan dakwah.

Lalu, siapa kita? Nabi?, bukan, Rasul?, bukan, Sahabat?, bukan, Ulama?, juga bukan. Kita hanyalah umat yang ingin selalu dekat kepada Allah. 
Yuk kita membuka diri. ikuti protokol pemerintah. Pakai masker, cuci tangan dengan sabun, tidak keluar rumah, bahkan untuk sementara waktu mencukupkan sholat jama'ah dan sholat jumat di rumah. Terakhir bahwakan pemerintah sampai mengeluarkan kebijakan tidak usah mudik dahulu.

Ayuk kita patuhi. Semua demi mempertahankan keberlangsungan kehidupan kita. Hal  itu merupakan syariat dharuriyat agar kita masih dapat terus beribadah kepada Allah dan semakin bertaqwa kepada-Nya sebagai bekal menghadap Allah dengan khusnul khatimah. 

Semoga Allah berikan kesehatan kepada kita semua, keluarga kita, tetangga kita, sanak saudara kita, bangsa kita dan segera Allah sirnakan Covid-19 ini dari seluruh belahan dunia.
Selamat tinggal covid-19, selamat datang Ramadhan 1441 H dan Labbailallahumma labaik, Aku penuhi panggilan haji-Mu ya Allah.

Kalaupun kami harus mudik tidak di bulan syawwal, tidak mengapa ya Allah. yang penting masih Engkau berikan kesempatan kepada kami untuk bersilaturahmi dan berjabat tangan erat dengan saudara dan tetangga kami dalam keadaan aman. Kabulkan pinta kami ya Allah....

Agung Nugraha
Lereng Merapi
Subuh, 11 April 2020 

Lihat versi video :

Sunday, April 5, 2020

Hentikan covid-19 dan sambut Ramadhan dengan berbuat baik dan tolong menolong
 H. R. Agung Nugraha, MA


Sejak awal, Islam telah mendorong umat berbuat baik (ihsan) dan saling menolong (taawun) di antara warga masyarakat.
Hal itu dapat dilakukan kapan saja, dimana saj dan dalam keadaaan apapun.

Baik dilakukan dengan sesama, terlebih kepada orang lemah dan membutuhkan.

Dalam bahasa sekarang, khususnya terkait wabah corona, kita diperintahkan untuk saling membantu terutama kepada kelompok rentan. Padahal sekarang, siapapun ternyata rentan terpapar virus ini.

Karenanya seluruh potensi bisa dilakukan, dari hal terkecil hingga yang memerlukan keahlian khusus.  Misalnya berbagi  masker, hand sanitizer, atau mencukupi kebutuhan pokok dari keluarga yang  terdampak secara langsung dan tidak melakukan panic buying (pembelian barang karena panik/penimbunan barang berdasarkan rasa takut).

Hal ini sebagaimana termaktub dalam spirit al-Quran surat an-Naḥl: 90

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Juga Surat al-Māidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Saling menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan saling menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya.

Mari, bersama kita wujudkan semangat tolong menolong dan saling mengingatkan.
Semoga segera Allah cabut wabah covid-19 ini sehingga kita dapat beribadah secara tenang dan lebih baik pada Ramadhan 1441 H tahun ini. Semoga