Oleh : Gunung Sutopo
__
Beberapa waktu lalu, saya hadir di walimahan seorang sahabat baik saya. Di tengah suasana yang hangat itu, perhatian saya tertuju kepada sahabat tersebut. Saya melihat wajahnya menyimpan sesuatu yang sulit disembunyikan. Ia nampak emosional, berusaha menahan haru, tetapi air mata akhirnya menetes di pipinya.
Saya mengenalnya sebagai pribadi yang cukup tenang dan matang. Pemandangan pagi tadi memperlihatkan sisi lain dari dirinya, sisi seorang bapak yang hatinya sedang tersentuh oleh kebahagiaan anaknya.
Pemandangan itu membawa pikiran saya pada satu hal yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka. Kita sering memperoleh kesan bahwa ikatan emosional seorang ibu dengan anak lebih mudah terlihat. Ibu lebih ekspresif dalam menunjukkan kegembiraan, kecemasan, kerinduan, bahkan kesedihan.
Sementara bapak cenderung menyimpan perasaannya. Ia bisa terlihat tenang ketika anaknya memperoleh keberhasilan, atau tetap berusaha tegak ketika anaknya sedang menghadapi kesulitan. Padahal, ekspresi yang berbeda tidak dengan sendirinya menunjukkan kedalaman cinta yang berbeda.
Saya sendiri merasakan ada semacam gengsi lelaki dalam memperlihatkan air mata. Menangis karena terharu menyaksikan keberhasilan anak, atau karena bahagia melihat anak menemukan jalan hidupnya, kadang terasa seperti sesuatu yang sebaiknya disimpan. Begitu pula ketika anak sedang berada dalam keadaan memprihatinkan.
Ada dorongan untuk tetap terlihat kuat, seolah-olah seorang bapak harus selalu mampu mengendalikan keadaan, termasuk keadaan batinnya sendiri. Kita terbiasa menjadi tempat anak-anak bersandar, sehingga sesekali merasa canggung ketika hati kita sendiri membutuhkan ruang untuk melepaskan rasa.
Namun, kehidupan seorang bapak sesungguhnya menyimpan banyak peristiwa yang tidak seluruhnya dapat diceritakan kepada anak-anaknya. Ada kecemasan tentang masa depan mereka, ada kegelisahan ketika melihat mereka mengambil keputusan yang kurang tepat, ada kebanggaan yang sengaja tidak terlalu diperlihatkan agar anak tidak tumbuh dalam pujian yang berlebihan.
Bahkan, ada doa-doa yang dipanjatkan dalam kesunyian, jauh dari pengetahuan mereka. Bapak sering memilih menyampaikan perhatian melalui tindakan, memastikan kebutuhan terpenuhi, memberikan perlindungan, atau diam-diam mencari jalan ketika anak sedang menghadapi kesulitan.
Barangkali inilah salah satu bahasa cinta seorang bapak yang tidak selalu terbaca melalui kata-kata.
Waktu juga mengajarkan sesuatu kepada seorang bapak. Dahulu, anak-anak membutuhkan tangannya untuk belajar berjalan, membutuhkan kehadirannya ketika berangkat sekolah, dan membutuhkan perlindungannya ketika berhadapan dengan dunia yang belum mereka kenal.
Perlahan, mereka tumbuh, memiliki pemikiran sendiri, menentukan pilihan, membangun pergaulan, hingga kelak membentuk keluarga. Ada kebahagiaan ketika melihat mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri, tetapi ada pula rasa haru yang menyertainya.
Seorang bapak sedang menyaksikan keberhasilan dari perjalanan panjang pengasuhannya sekaligus menyadari bahwa sebagian ruang kehidupan anak-anaknya tidak lagi berada dalam jangkauan tangannya.
Di sinilah saya melihat bahwa cinta seorang bapak memiliki dimensi yang menarik. Ia ingin anaknya berhasil, tetapi juga harus belajar menerima bahwa keberhasilan itu akan membawa anaknya semakin mandiri.
Ia ingin selalu hadir, tetapi memahami bahwa kehadirannya tidak harus selalu menjadi pusat kehidupan anak. Ia ingin melindungi, tetapi juga harus memberi ruang agar anak belajar menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri.
Ada kebesaran hati yang diperlukan untuk menyaksikan anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak lagi bergantung kepadanya. Kebanggaan seorang bapak bukan hanya ketika anaknya membutuhkan dirinya, tetapi juga ketika anaknya mampu menjalani kehidupan dengan baik tanpa harus selalu berada di dekatnya.
Anak bukan sekadar penerus nama keluarga, kebanggaan sosial, atau capaian pengasuhan orang tua. Mereka adalah amanah yang kebahagiaannya tidak berhenti pada keberhasilan duniawi, melainkan juga pada kebaikan perjalanan hidup dan kedekatannya dengan Sang Pencipta.
Pagi itu saya menyaksikan air mata seorang bapak. Saya tidak tahu seluruh kenangan dan perasaan yang sedang melintas dalam benaknya. Namun, pemandangan itu membuat saya merenungkan diri sendiri. Kita, para bapak, barangkali terlalu terbiasa menjaga ketegaran sehingga kadang lupa bahwa hati juga memiliki bahasa yang perlu diberi kesempatan untuk berbicara.
Menangis karena bahagia melihat anak berhasil, atau menangis karena sedih melihat anak sedang terpuruk, *bukanlah sesuatu yang mengurangi martabat seorang lelaki.* Ada ketegaran yang justru menjadi lebih utuh ketika ia tidak kehilangan kelembutan.
Saya kira, seorang bapak tetap boleh memiliki air mata. Tidak harus sering diperlihatkan, tidak pula harus selalu dijelaskan. Ada saatnya ia cukup membiarkan rasa itu hadir, sebagai ungkapan syukur, cinta, dan kerinduan yang telah lama tersimpan.
Barangkali, di antara banyak hal yang tidak sempat disampaikan seorang bapak kepada anak-anaknya, ada satu hal yang sesungguhnya selalu ingin ia pastikan, bahwa dalam diamnya pun, mereka selalu memiliki tempat yang begitu luas di hatinya.
*Ahad , 01 Nopember 2026*