Thursday, August 6, 2026

 


oleh : Gunung Sutopo

_______

Selepas subuh, ketika langit belum sepenuhnya terang dan sisa malam masih menggantung tipis di udara, ada satu pertanyaan yang kembali mengusik pikiran saya. Mengapa menjelang tidur Rasulullah tidak mengajarkan sesuatu yang rumit.

Bukan bacaan yang panjang, bukan pula wirid yang menuntut olah intelektual yang berat. Justru sebuah surah yang demikian pendek, demikian akrab di lidah sejak kecil, hingga sering kali kita melafalkannya hampir sebagai kebiasaan belaka. Surah Al-Ikhlas tiga kali. Rasulullah bersabda bahwa *_Qul huwallahu ahad_* setara dengan sepertiga Al-Qur'an. Sabda yang ringkas, tetapi semakin direnungi justru semakin terasa dalam.

Namun malam selalu menghadirkan pelajaran yang tak mudah dibantah.

Saat tubuh rebah dan mata perlahan menutup, seluruh kebesaran yang siang tadi terasa begitu penting mulai kehilangan wibawanya. 

• Harta tak sanggup membeli satu helaan napas tambahan. 

• Jabatan tak mampu menawar takdir. 

• Intelektualitas yang sering kita rayakan sebagai puncak kemanusiaan pun mendadak berdiri di hadapan tembok yang tak dapat diterobosnya. 

Ia dapat menjelaskan banyak hal tentang kehidupan, tetapi tidak pernah mampu menjamin bahwa orang yang memejamkan mata malam ini akan kembali membuka matanya pada pagi hari.

Tidur nyenyak pulas semalam terasa hangat sesungguhnya tak memberi jaminan apa-apa. Ada kain selimut menahan dingin, tapi hanya kain yang melindungi tubuh dari dingin. Tetapi di sanalah ada pelajaran yang begitu lembut. Sebelum tubuh dibungkus kain, Rasulullah mengajarkan agar jiwa lebih dahulu dibungkus tauhid, agar jika malam itu menjadi yang terakhir, yang paling akhir tinggal dalam dada bukan kecemasan, bukan ambisi, melainkan nama-Nya.

Dan pagi ini, selepas subuh, ketika cahaya perlahan menetes dari ufuk timur, ada rasa syukur yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Udara terasa lebih bening, langit tampak lebih teduh, dan kicau burung seolah membawa kabar yang sederhana namun agung—kita masih diberi kehidupan. 

Ternyata selimut yang tadi malam kita pakai belumlah menjadi selimut yang terakhir. Maka tiada doa yang lebih pantas selain syukur yang lirih, Alhamdulillah, ya Allah, Engkau masih berkenan mengembalikan kami kepada pagi, agar hari ini sekali lagi dapat kami gunakan untuk pulang lebih dekat kepada-Mu.


*Pakem , 07.08.2026*

Terbaru
Berikutnya

0 comments: