Yayasan Darul Muttaqien Medari sedang mengembangkan percontohan kegiatan Wakaf produktif berupa masjid, SPBU Pertashop, toko dan rumah tahfidz yang terletak di Dusun Sambirejo, Selo martani, Kalasan, Sleman, DIY.
Kedepan hasil dari usaha ekonomi itu pada waktunya diharapkan dapat menopang biaya operasional masjid dan Rumah tahfidz.
Program tahun ini adalah penyempurnaan pembangunan masjid berupa pemasangan konblok, pemasangan teras kanopi, pengisian meubelair kamar rumah tahfidz dan modal usaha untuk pengisian barang dagangan toko.
Mari sisihkan sebagian zakat, infaq, shodaqah untuk mendukung program tersebut. Semoga menjadi amal jariyah yang senantiasa mengalir pahalanya.
Kebutuhan dana :
1. Pemasangan kanopi masjid : Rp. 90.000.000,-
2. Meubelair rumah tahfidz : Rp. 35.000.000,-
3. Modal usaha toko : Rp. 100.000.000,-
Donasi dapat disalurkan melalui :
Rek BRI : 024701025802536
An. Masjid Darul Muttaqien
Untuk konfirmasi dapat penghubungi No. 085743984745 atas nama Agung Nugraha
Jama’ah shalat Id rahimakumullah, marilah bersama kita panjatkan
rasa puji dan syukur kita kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat dan ridha-NYa
kita telah diperkenankan bertemu bulan Ramadhan 1443 H, berkesempatan
melaksanakan serangkaian ibadah didalamnya hingga pada akhirnya kita akhiri
dengan membayar zakat dan melaksanakan Shalat Idul Fitri dipagi ini dengan
penuh suka cita. Semoga seluruh ibadah yang telah kita laksanakan diterima dan
dicatat sebagai wujud taqwa kita kepada Allah. Amien..
Shalawat dan salam semoga senantiasa
dilimpahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan seluruh
umatnya, insyaallah termasuk kita semua yang hadir di majelis yang mulia ini.
Aamiin
Allahu
Akbar 2 x Walillahillhamd
Kita tentu bersyukur dan bergembira karena telah diberikan
kesempatan menyelesaikan rangkaian ibadah Ramadhan tahun ini. Namun bersamaan
dengan itu tentu kita merasa sedih, karena kesempatan meraup rahmat dan ampunan
Allah akan segerameninggalkan kita
semua, sementara kita tidak tahu apakah masih akan diberi kesempatan bertemu
lagi dengan bulan Ramadhan yang akan datang. Pertanyaannya ialah, apakah dengan
berakhirnya Ramadhan, habiskah kesempatan kita untuk menangguk pahala dan ridha
Allah?Jawabnya ternyata tidak…
Ramadhan hanyalah proses pelatihan, Puasa merupakan salah satu
ibadah yang disyariatkan Allah. Tujuan perintah puasa, dan ibadah – ibadah yang
lain, tidak lain adalah agar kita menjadi manusia yang semakin hari semakin
meningkat ketaqwaannya. Untuk mewujudkan hal itu, maka kita harus mampu
meningkatkan kualitas ibadah kita. Ibadah yang berkualitas adalah ibadah yang
mampu terinternalisasi dalam diri seorang hamba dan tercermin dalam diri dan
kepribadian seseorang diluar konteks ibadah itu sendiri. Pertanyaan selanjutnya,
bagaimana cara agar ibadah yang dilakukan dapat berkualitas sehingga
terinternalisasi dan terimplementasi dalam denyut kehidupan kita dan bagaimana
langkah-langkah yang harus dilakukan ?
Agar ibadah yang kita kerjakan semakin berkualitas dan sesuai
dengan kehendak Allah dan tuntunan Rasul. Ada tiga hal yang harus kita
perhatikan, yaitu :
1.Mengerti dan memahami kaifiyah ibadah
Untuk meningkatkan kualitas suatu ibadah, kita harus senantiasa
mempelajari, mengerti dan memahami kaifiyah ibadah yang akan kita lakukan, baik
yang berupa ketentuan, tata cara, syarat dan rukunnya. Disinilah kemudian kita
harus selalu berusaha menggali ketentuan-ketentuan yang terkait dengan ibadah
yang kita lakukan. Dalam hal puasa, misalnya, dari sisi fiqh, pengertian puasa
adalah menahan makan, minum dan hubungan antara suami istri sejak terbit fajar
hingga terbenamnya matahari disertai niat karena Allah. Sehingga rukun Puasa
adalah pertama niat dan kedua, menahan makan, minum dan jima’
(hubungan suami istri).Apabila kita
mampu memenuhi dua rukun tersebut, maka dari sisi fiqh kewajiban puasa itu
telah gugur (tertunaikan).
Lebih dari itu, kita juga harus mengerti dan paham bahwa selain
menahan makan, minum dan hubungan suami istri, seorang yang berpuasa
disunnahkan untuk makan sahur dan mengakhirkannya, mendahulukan berbuka dengan
yang manis (kurma), memperbanyak dzikir, sholat sunnat, tadarus al-qur’an,
shodaqah, dst.
Kita juga harus mengetahui larangan-larangan yang tidak boleh
dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa, serta tindakan dan perilaku yang
dapat membatalkan ibadah puasa atau yang akan mengurangi bahkan menghilangkan
pahala puasa.
Ketentuan, tata cara, syarat dan rukun puasa tersebut harus selalu
kita kaji dan secara bertahap dan terus menerus kita tingkatkan kualitas maupun
kuantitasnya. Demikian juga dengan larangan-larangan tersebut harus
terus-menerus kita hindarkan.
Apabila kita telah mampu memahami dan melakukan puasa sesuai dengan
kaifiyah tersebut, maka kita telah mampu mmengamalkan ibadah tersebut secara
baik dan benar sesuai dengan tuntunan Allah dan sunnah Rasul.
2.Mengerti dan memahami ruh (esensi) dari ibadah yang
diperintahkan
Setelah mengetahui dan memahami ketentuan, tata cara, syarat dan
rukun ibadah, maka tahap selanjutnya kita harus selalu berusaha memahami ruh
(esensi) dariibadah tersebut. Artinya,
meski kita telah melakukan sebuah ibadah sesuai dengan kaifiyah yang
dituntunkan, hal itu belum sempurna apabila kita belum memahami esensi dari
ibadah yang kita lakukan. Hal ini penting agar setiap kita berusaha menggali
rahasia dibalik ibadah yang disyari’atkan.
Dalam konteks puasa, esensi dari puasa adalah mengendalikan diri
dan nafsu.. Makan, minum dan hubungan suami istri hanyalah simbul atau sebagian
dari nafsu manusia yang harus dikendalikan. Karena itulah orang yang berpuasa
juga diperintahkan untuk meninggalkan perilaku sia-sia (laghwi, tidak
produktif), kata-kata kotor (rofasy), mencela dan menjelek-jelekkan
orang lain (syatam) dan masih banyak hal lain yang harus dihindari oleh
orang berpuasa agar puasanya mempunyai makna dan tidak sekedar mendapat lapar
dan dahaga sebagaimana sabda Nabi :
“betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan
apa-apa dari puasanya itu selain lapar dan dahaga”.
Dengan demikian, meskipun setiap tahun selama sebulan penuh kita
mampu melaksanakan puasa, tidak makan, minum dan hubungan suami istri, namun
bilatidak memahami esensinya, kita akan
selalu kembali melakukan tindakan-tindakan yang diluar pengendalian diri
tersebut.
3.Adanya atsar dari ibadah
Setelah melaksanakan ibadah sesuai ketentuan, tata cara, syarat dan
rukunnya serta mengetahui dan memahami ruh dari perintah ibadah tersebut, maka
sebuah ibadah akan sempurna dan berkualitas apabila menghasilkan atsar
(bekas) berupa kesalehan kita diluar ibadah. Artinya, kesalehan seseorang tidak
sekedar diukur dengan terlaksananya sebuah ibadah, lebih dari itu ibadah akan
berkualitas dan optimal apabila orang yang melakukan ibadah tersebut mampu
menginternalisasikan ruh ibadah dan mengimplementasikannya disepanjang
kehidupan.
Allahu
Akbar 2 x Walillahillhamd
Jamalah, sholat Id rahimakumullah.
Ada pepatah arab, Laisal 'ied man labisal jadid, innamal 'ied man taqwallahu taziid, Idul fitri bukan sekedar baju baru, melainkan bertambahnya taqwa orang yang berpuasa. Dalam konteks inilah tampaknya kita
masih harus terus melakukan muhasabah / perenungan yang dalam
apakah ibadah puasa dan amaliah ramadhan yang sudah bertahun-tahun kita
laksanakan itu sudah terinternalisasi dan menjadi ruh didalam kehidupan kita
sehari-hari.
Karenanya, agar ibadah seluruh rangkaian ibadah kita itu berbekas
dan tidak sekedar menjadi rutinitas tahunan, sudah seharusnya kita memancangkan
niat didalam diri kita untuk melestarikan amaliah ramadhan tersebut diluar
bulan ramadhan. Pelestarian yang kami maksudkan ialah disamping secara lahiriah
kita melanjutkan kegiatan ramadhan tersebut diluar bulan ramadhan, seperti
puasa wajib kita lanjutkan dengan puasa sunnah, shalat tarawih dilanjutkan
dengan shalat malam, tadarus ramadhan dilanjutkan dengan tadarus harian setelah
maghrib atau setelah subuh dsb. Adapun yang bersifat kolektif/Jama’ah kita
dapat melestarikan amaliah ramadhan dengan memudawamahkan shalat
jama’ah, menghidupkan dan menggairahkan pengajian rutin.dan yang lainnya..
Allahu
Akbar 2 x Walillahillhamd
Jamaah sholad id rahimakumullah.
setelah dua tahun kita tidak merayakan lebaran karena pandemi Covid-19, Idul
fitri tahun ini merupakan momen yang sangat baik untuk merajut Kembali
silaturahmi. Silaturahmi yang perlu kita bangun mencakup dua hal.
Pertama, silaturahmi antar anggota keluarga sedarah dan/atau
keluarga dekat. Setelah dua tahun tidak mudik, saat ini kita berkesempatan
pulang kampung bertemu ayah, ibu dan keluarga secara langsung. Bagi yang masih
memiliki orang tua, ayah atau ibu, manfaatkan moment idul fitri ini untuk
mengekpresikan bakti kepada orang tua (birrul walidain) dengan “sungkem”,
memegang erat tangan bahkan memeluk orang yang telah mendidik dan membesarkan
kita. Memang doa bisa kita lantunkan kapan dan dimana saja, bahkan alat
komunikasi bisa membantu kita mendekatkan jarak dan melihat wajah mereka. Namun
tentu berbeda rasa dan ikatan emosi antara bertemu langsung dibanding dengan
sekedar telepon bahkan video call sekalipun. Bukan bingkisan dan oleh-oleh yang
ditunggu orang tua kita. Kehadiran fisik kita tentu akan membuat mereka sangat Bahagia.
Ketika ayah dan ibu sudah meninggal, ada kecenderungan renggangnya ikatan
antara anak dan cucu karena tidak ada lagi “pengikat”, jadikan momen idul fitri
ini untuk merajut silaturahmi dan persaudaraan yang dihubungan karena pertalian
darah, anak, cucu buyut dan seterusnya dengan saling berkunjung, memanjangkan
umur dan meluaskan rejeki.
Artinya
: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu
bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan
susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,
sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia
berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang
telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat
berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan
(memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau
dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Al
Ahqaf : 15)
Artinya
: “Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik
yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama
penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada
mereka”. (Al Ahqaf : 16)
Allahu
Akbar 2 x Walillahillhamd
Silaturahmi kedua adalah, silaturahmi dan rekonsiliasi nasional
antar anak bangsa. Idul fitri ini penting dimaknai demikian mengingat sekitar
dua sampai lima tahun terakhir kita disuguhi berbagai konten media social yang saling menghujat bahkan seolah
terbelah kedalam dua kubu yang tidak berkesudahan. Lupakan caci maki, kebencian
dan heatspeach. Akan sangat indah apabila memaknai idul fitri tahun ini para
pemimpin nasional bertemu dan dengan tulus memberikan contoh kedamaian yang
sejati.
Allahu Akbar 2x walillahilhamd
Mengakhiri khutbah kali ini, selagi Ramadhan belum jauh kita
tinggalkan marilah kita semua merenung sejenak, betapa sebetulnya kita masih
mempunyai kesempatan yang luas untuk beribadah sebanyak mungkin. Menangguk
ridha Allah tidak saja terbatas di bulan Ramadhan tetapi disepanjang waktu
selagi kesempatan itu masih diberikan dan disemua tempat didalam seluruh
lapangan kehidupan kita.
Akhirnya, marilah kita berdo’a, semoga Allah berkenan memberikan
kesempatan dan kekuatan kepada kita untuk menjaga dan melestarikan amaliah Ramadhan,
membangun dan menokohkan silaturahmi untuk terwujudkan kedamaian yang bisa
mengantarkan kita menjadi pribadi yang semakin bertaqwa kepada Allah.
Site Plan Wakaf Produktif Yayasan Darul Muttaqien Medari
Pada Tahun 2018, Yayasan Darul Muttaqien Medari menerima amanah tanah wakaf seluas 995 M2 terletak di dusun Sambirejo, Selomartani, Kalasan Sleman dari keluarga Bpk Rubiyanto dan ibu Tutik.
Lokasi tersebut berada di jalur 'altenatif' yang menghubungkan pusat kota/kabupaten Sleman dengan klaten. Mengingat letak yang strategis tersebut, yayasan menyiapkan rencana pengelolaan, pengembangan dan pendayagunaan melalui kegiatan wakaf produktif.
Di lokasi tersebut akan dibangun Masjid dan rumah tahfidz dan dilengkapi dengan kegiatan ekonomi produktif berupa Stasiun Pertashop, Mini Market, Kantor/BMT/LKS yang diintegrasikan dengan food court.
Dengan demikian, disamping berfungsi sebagai tempat pendidikan Al Qur'an, juga dapat menjadi semacam rest area dimana orang yang melintasi jalan tersebut dapat beristirahat sholat, mengisi Bahan bakar, berbelanja kebutuhan harian maupun istrirahat makan.
Pondasi masjid
Saat ini sedang dimulai proses pembangunan masjid, dan secara bertahap akan diikuti unit produktif dan kamar/asrama.
Untuk keperluan tersebut, dibuka kesempatan beramal jariyah baik berupa bahan bangunan maupun dana.
Selain rumah tahfidz, dikomplek tersebut akan dikelola semacam rest area yang terdiri dari masjid, pertashop dan food court.
Bapak/ ibu Muhsinin yang berkenan memberikan bantuan dapat melalui transfer ke rekening yayasan
BRI : 0247-01-024249-53-1
BPD : 005.221.032775
BSI : 2011201167
dan konfirmasi/ menghubungi pengurus di nomer 081227335935 atas nama Dwinta Sudibya (ketua) atau 085743984745 atas nama Agung Nugraha (Sekretaris) dan 08112808499 atas nama Inoki (Bendahara).
Donasi juga dapat disalurkan melalui Scan QRIS Yayasan an. Lazis KAMU berikut
QRIS Lazis KAMU Yayasan Darul Muttaqien Medari
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Direktorat Jenderal Pemberdayaan Zakat dan wakaf Kementerian Agama RI melalui Projek Inkubasi Wakaf Tahun 2021 senilai Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
Glondong merupakan bagian dari Padukuhan Kardangan, salah satu padukuhan di Desa Purwobinangun Pakem, yang belum memiliki tempat ibadah yang dapat difungsikan untuk kegiatan peribadatan secara berjamaah. Biasanya warga glondong mengikuti kegiatan di Masjid Darussalam Bunder yang jaraknya sekitar 1 km dan dibatasi oleh jalan Monjali. Karena jarak yang relatif jauh dan semakin ramainya lalu lalang kendaraan di jalan Monjali, maka aktifitas ibadah warga glondong sangat terbatas. Bahkan bisa dikatakan hanya ketika ibadah jumat. Dengan demikian kegiatan ibadah harian lima waktu banyak dilakukan di rumah masing-masing.
Kondisi demikian menggugah Bapak Wagiman dan Ibu Hartinah (Dukuh Kardangan) untuk mewakafkan tanah untuk dibangun masjid yang diharapkan dapat lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan warga dengan melaksanakan ibadah lima waktu karena posisinya yang berada ditengah kampung.
Karena lokasi tanah yang dibawah (ledok) maka direncanakan bangunan musholla dua lantai seluas 210 M2 dengan biaya sekitar Rp. 608.587.000 (enamratus delapan juta limaratus delapanpuluh tujuh ribu rupiah).
Dengan tekat dan semangat warga dan modal uang Rp. 52.336.000 (limapuluh dua ribu tigaratus tigapuluh enam ribu rupiah) proses pembangunan telah dimulai. hingga saat ini (14/12/2021) telah terkumpul dana keseluruhan sebesar rp. 202 jt (duaratus juta rupiah) sehingga masih kurang Rp. 406.000.000 (empatratus enam juta rupiah)
berkenaan dengan hal tersebut, kami mengundang bapak/ibu/saudara untuk berpartisipasi membangun rumah di surga sebagaimana sabda Rasulullah "Barangsiapa membangun masjid, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga".
Kondisi teraskhir 12 Desember 2021; Cor Dak Lantai 2
Kami sangat bersyukur apabila berkenan hadir langsung ke lokasi ataupun menyalurkan bantuan melalui rekening BRI No. 302201049294536 An. Panitia Pembangunan Masjid Al Iman dan konfirmasi kepada panitia di Nomer 081349585049 an. Yuliyanto, S.Pd atau 08122758739 an H.M. Yuliyanto, MSi. (ran)
Terimakasih atas kepercayaan bapak/ibu/saudara, teriring doa آجَرَكَ اللهُ فِيْمَا اَعْطَيْتَ، وَبَارَكَ فِيْمَا اَبْقَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوْرًا AAJAROKALLAAHU FIIMAA A’THOITA WABAAROKA FIIMAA ABQOITA WAJA’ALAHU LAKA THOHUURON Artinya : Semoga Allah memberikan pahala kepadamu pada barang yang engkau berikan (zakatkan) dan semoga Allah memberkahimu dalam harta-harta yang masih engkau sisakan dan semoga pula menjadikannya sebagai pembersih (dosa) bagimu... Aamiin
Channel KAMU
Untuk menyaksikan dan menyimak kajian melalui paltform Youtube, silahkan kunjungi : Channel KAMU