Wednesday, March 26, 2025

"Keliling Surga" Bersama Muhammadiyah Pakem


Dalam rangka mengambil hikmah dan melestarikan amaliyah Ramadhan 1446 H, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pakem akan mengajak umat Islam di kapanewon Pakem untuk "Keliling Surga" bersama Muhammadiyah Pakem setelah Ramadhan nanti. 

Keliling surga adalah akronim dari keliling subuh bersama keluarga. Hal ini disampaikan oleh R. Agung Nugraha, di Masjid Al Faruq PKU Muhammadiyah Pakem pada hari selasa 25 Maret 2025 dalam kegiatan buka bersama menutup rangkaian safari tarawih keliling Ramadhan 1446 H yang dilaksanakan sebanyak 7 putaran. 

Sebagaimana diketahui, PCM Pakem bersama ortom, Majelis/Lembaga, PRM dan Pimpinan AUM setiap tahun melaksanakan program tarawih keliling ke seluruh ranting yang ada di cabang Pakem. 

Kegiatan Safari diawali pengajian jelang buka bersama di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bersama guru, karyawan, dokter dan para medis. Setelah jama'ah maghrib kemudian dilanjutkan safari tarawih ke masjid-masjid binaan Muhammadiyah. 

Untuk melestarikan semangat Ramadhan tersebut, PCM Pakem akan melanjutkan silaturahmi, juga memotivasi warga dan simpatisan untuk berjama'ah dan memakmurkan masjid. 

Kegiatan Safari tarawih yang mendapat sambutan baik dari jama'ah akan dilanjutkan dengan keliling subuh bersama keluarga Muhammadiyah. Agung Menambahkan, kegiatan ini diharapkan dapat lebih menguatkan semangat berjama'ah, terlebih subuh merupakan waktu yang baik untuk memulai aktivitas. (ran)

Friday, September 20, 2024

R. Agung Nugraha : Menggenggam Wasiat dan Meneladani Nabi Muhammad

 


Nabi Muhammad meninggalkan wasiat kepada umatnya dengan sabda beliau :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Artinya : Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, HR. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Dengan demikian, apabila kita ingin mendapat ridho Allah, selamat dan menginginkan surga, maka caranya dengan mengikuti sunnah nabi.

1.       Menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk jalan hidup

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى {123} وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Artinya : Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123, 124).

2.       Berakhlaq dengan al Qur’an

Ketika Ibu Aisyiah ditanya tentang Akhlaq Nabi, beliau menjawab :

كَانَ خَلْقُهُ الْقُرْآنُ

Artinya : Bahwa Akhlaq Nabi adalah Al Qur’an.

3.       Mengikuti Nabi

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

Artinya :  "Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu." (QS Ali Imran: 31).

 Yuk Wakaf. tunai

4.       Mencintai yang dicintai nabi

وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُا الدَّارَ وَالْإِيمانَ  مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ

Artinya, "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan." (QS al-Hasyr: 9).

5.       Begetar menyebut nabi

كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَهُ لَا يَذْكُرُونَهُ إِلَّا خَشَعُوا وَاقْشَعَرَّتْ جُلُودُهُمْ وَبَكَوْا.. وَكَذَلِكَ كَثِيرٌ مِنَ التَّابِعِينَ مِنْهُمْ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مَحَبَّةً لَهُ وَشَوْقًا إِلَيْهِ.. وَمِنْهُمْ مَنْ يَفْعَلُهُ تَهَيُّبًا وَتَوْقِيرًا

Artinya, "Setelah wafatnya Nabi, tidaklah disebutkan nama Nabi saw kecuali meraka para sahabat bersikap khyusu', kulit-kulit mereka bergetar dan menangis. Sikap yang sama terlihat juga pada mayoritas tabi'in. Sebagian mereka bersikap seperti itu karena kecintaan dan kerinduan kepada Nabi, sebagian lain karena segan dan memuliyakannya

6.       Menghidupkan sunnah nabi

قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا بُنَيَّ، إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لِأَحَدٍ فَافْعَلْ. ثُمَّ قَالَ لِي: يَا بُنَيَّ، وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي. وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي. وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

Artinya, “Anas bin Malik ra berkata: “Rasalullah bersabda: “Wahai anakku, jika kamu mampu pada pagi sampai sore hari di hatimu tidak ada sifat khianat pada seorangpun, maka perbuatlah.” Kemudian beliau berkata kepadaku lagi: "Wahai anakku, itu termasuk sunnahku. Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Barangsiapa yang telah mencintaiku, maka aku bersamanya di surga."

7.       Berkasih saying karena Allah

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Artinya: "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya." (QS al-Mujadilah: 22).

8.       Senantiasa berdzikir kepada Allah

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

 

Artinya : Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. ( Al BAqoroh : 152)

 

 



[1] Disampaikan pada Pengajian Rutin IPHI Ranting Selomartani Kalasan. Sabtu, 21 September 2024

[2] Penghulu KUA Ngemplak dan Sekretaris Yayasan Darul Muttaqien Medari

Thursday, June 20, 2024

Muh. Nursalim : Ganti Istri ala Isma'il


Segala hal tentang Nabi Ibrahim dan Ismail dikupas oleh para penceramah di setiap bulan zulhijah. Terkadang juga plus siti Hajar. Laku ketiga manusia  tersebut menjadi ritual kaum muslimin di seluruh dunia. Baik yang sedang beribadah haji maupun tidak.

Mereka yang sedang ibadah haji melakukan tawaf di kakbah. Bangunan berbentuk kubus itu yang merenovasi adalah Ibrahim dan Ismail. Sebelum dibangun ulang oleh kedua insan tersebut, dindingnya tidak ada. Yang ada hanya pondasi semata. Sebagaimana firman Allah dalam surat albaqarah : 127 berikut.

Ingatlah ketika Ibrahim meninggikan fondasi kakbah bersama Ismail seraya berdoa, “Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ibrahim dan Ismail  bukanlah pendiri kakbah. Mereka hanya merenovasi setelah bangunan itu hancur disapu banjir jaman nabi Nuh. Adapun yang membangun pertama kali adalah malaikat. Bahkan kakbah telah dibuat sebelum penciptaan Adam. Begitu kata Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.

Setelah tawaf mengelilingi kakbah tujuh kali disunahkan  salat dua rakaat di maqam ibarahim. Ini adalah tempat di mana Nabi Ibrahim berdiri saat membangun kakbah. Para tukang sering menyebutnya steger. Karena kakbah itu tingginya 13 m sehingga perlu ancik-ancik untuk memasang batu bagian atas. Di situ ada bekas telapak kaki Nabi Ibrahim.

Capek   tawaf dan shalat lalu istirahat sebentar. Di sunnahkan sambil minum zamzam. Air ini adalah anugerah Allah untuk ismail  saat ibunya kehabisan  susu. Bahkan dengan adanya air ini pula lembah yang mulanya sepi menjadi ramai. Karena para pengembara mampir untuk sekedar minum atau bahkan banyak yang tinggal di tempat tersebut.

Kemudian dilanjut sa’i dari Safa ke Marwa. Ritual ini meniru Hajar saat mencari air. Di saat kehabisan bekal untuk diri dan anaknya. Maka wanita itu naik ke bukit Safa berharap melihat manusia yang bisa dimintai tolong atau ketemu sumber air. Tidak ketemu orang dan air ia pindah ke Marwa untuk tujuan yang sama. Begitulah sampai tujuh kali bolak-balik dengan hasil nihil. 

Allah menolong hambanya yang telah berihtiar maksimal. Ibarat sepak bola, pada saat injury time pertolongan itu baru datang. Yaitu dengan munculnya sumber air zam-zam di telapak kaki ismail yang masih bayi. Zummi-zummi (kumpul-kumpul) ucap Hajar gembira. Maka kemudian air itu dinamakan zamzam.

Sementara kaum muslimin yang tidak sedang berhaji menyembelih hewan kurban. Ini juga laku Ibrahim dan Ismail. Dua manusia itu menjalankan perintah Allah yang luar biasa berat. Yaitu bapak menyembelih anak. Perintah itu sudah dilaksanakan, dan kita semua tahu itu adalah cara  Allah menguji  cinta kasih Ibrahim kepada anaknya dibanding ketaatannya kepada sang pencipta. Maka sebagai balasannya Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing gibas yang gemuk.

Ada laku Ibrahim dan Ismail yang jarang diceritakan penceramah yaitu, tatkala sang bapak memberi sinyal agar Ismail menceraikan istri yang kurang bersyukur dan menggantinya dengan yang lebih baik.

Kita tahu. Nabi Ibrahim itu tinggal di Palestina. Beliau punya istri dua. Pertama adalah Sarah. Setelah menikah puluhan tahun  tidak punya anak dari wanita tersebut. Maka ia menikah lagi. Dalam banyak riwayat istri kedua ini tak lain adalah pembantunya sendiri. Itupun ia lakukan atas saran Sarah. Namanya kita semua tahu, dialah Hajar. Orang Indonesia biasa menambahi Siti sehingga menjadi Siti Hajar. Atas karunia Allah ternyata Hajarpun melahirkan. Anak itu diberi nama Ismail.

Dua istri dalam satu rumah. Anda bisa mengira-ira. Apa yang terjadi. Apalagi istri muda bisa melahirkan anak laki-laki. Saking cemburunya istri tua kepada Hajar, ia menyuruh Ibrahim agar melukai madunya tersebut. Luka itupun dibuat demi meredam kemarahan istri tua. Ia buat daun telinganya berlubang. Masya Allah, ternyata di tempat itu bisa dicenteli anting-anting. Waw, istri muda malah tambah kelihatan cantik dengan antingnya. Itulah awal mulanya anting di telinga wanita.

Karena terus bertengkar, Allah memerintah Ibrahim agar mengantarkan Hajar dan anaknya ke sebuah lembah yang tandus, tidak ada tanam-tanaman dan tidak ada manusia. Itulah Mekah. Setelah mengantar anak dan istrinya di tempat tujuan, Ibrahim kembali ke Palestina.  Sementara Hajar dan Ismail hidup sendiri di dekat baitullah.

Dalam sirah  dikisahkan, Ibrahim hanya beberapa kali mengunjungi anak dan istrinya di Mekah. Pertama saat mendapat perintah menyembelih Ismail. Kisah ini menjadi syariat kurban. Kedua perintah Allah untuk merenovasi kakbah. Saat itu Ismail sudah remaja, sehingga bisa diajak bekerja. Ketiga ketika Hajar sudah meninggal lalu Ibrahim mengunjungi rumah Ismail. Saat itu ia sudah menikah dengan wanita dari suku Jurhum.

Ketika sampai di rumah Ismail, yang ditemui hanya menantu. Sementara Ismail sedang bekerja  mencari nafkah. Basa-basi pertanyaanpun keluar. “Bagaimana kabar kalian”. Dengan ketus menantu itu menjawab”

“Kami ini dalam kondisi buruk, kami hidup dalam keadaan susah  dan sulit. Ia  mengeluh kepada Ibrahim”. Maka Ibrahim pun berpesan: 

“Sampaikan salamku kepada suamimu dan pesankan kepadanya agar mengganti palang pintu”.

Walaupun tidak ketemu, Ismail paham bahwa yang barusan datang adalah ayahnya. Dan palang pintu itu adalah istrinya. Maka Ismailpun mencerarikan istrinya serta mengembalikan kepada akeluarganya. Lalu ia menikah lagi dengan wanita lain.

Di waktu yang berbeda, Ibrahim kembali mengunjungi Ismail di Mekah. Lagi-lagi ia tidak ketemu anaknya. Yang ada di rumah hanya menantu. Tetapi bukan menantu yang dulu. Ia kembali bertanya tentang kabarnya.

 “Kami baik-baik saja dan berkecukupan.” Seraya memuji Allah dan bersyukur. “Apa yang kalian makan?” Ibrahim kembali bertanya. “Kami memakan daging.” Jawab menantu. “apa yang kalian minum?” Tanya Ibrahim. Istri Ismail menjawab “Air”. 

Kemudian Ibrahim berdo’a: “Ya Allah berkatilah mereka pada daging dan air”. Lalu berpesan kepada menantunya, bahwa nanti kalau Ismail pulang kabari bahwa aku datang dan agar ia memperkuat palang pintunya.

Ismail mengerti yang baru saja datang adalah ayahnya dan palang pintu itu adalah istrinya. Dari istri yang kedua inilah Ismail menurunkan suku-suku bangsa Arab. Salah satunya adalah Quraisy. Dan dari jalur ini pula Nabi Muhammad saw berasal. 

Kondisi ekonomi keluarga Ismail saat Nabi Ibrahim mengunjungi mereka, baik yang pertama maupun kedua itu relatif sama. Suami tetap bekerja untuk menafkahi keluarganya. Hanya saja sikap menantunya berbeda. Menantu pertama merasa serba kekurangan sedangkan yang kedua bersyukur atas keadaan yang ia alami. Akibatnya yang kurang bersyukur merasa hidupnya susah sedang yang bisa bersyukur dapat menikmati keluarga dengan bahagia.

Pada hari peringatan keluarga tanggal 15 Mei, BKKBN merilis data bahwa dalam satu tahun terjadi perceraian 500 ribu pasang suami istri. Paling banyak penyebabnya adalah faktor ekonomi. Jika ditelisik ala Nabi Ibrahim, boleh jadi faktor utamanya bukanlah ekonomi tetapi  kurangnya bersyukur atas keadaan yang mereka hadapi. Akibatnya antar pasangan selalu ribut dan berakhir dengan perceraian. 

Bahagia itu sederhana, yaitu mensyukuri apa yang ada. Alhamdulillah punya pasangan hidup, karena banyak orang yang jomblo sampai tua. Alhamdulillah dikarunia anak, karena betapa banyak orang yang sampai mati tidak punya keturunan. Alhamdulillah punya pekerjaan karena di sana banyak sekali pengangguran. Alhamdulillah punya rumah, karena jutaan keluarga masih hidup di rumah kontrakan. Syukurilah yang ada pasti kita bahagia.


___

Telah dibuat di solopos, kami posting disini atas izin penulis. 

Saturday, March 13, 2021

Dukung Dakwah Islam : Cerdas dan Menggembirakan


Dakwah Islam harus ditujukan kepada semua segmen masyarakat dan melalui berbagai program dan kegiatan yang dapat menyentuh kepada objek dakwah. 
Pengajian melalui pertemuan fisik dan tatap muka tetap diperlukan untuk membangun silaturahmi antar jamaah,khususnya bagi jama'ah masjid binaan Yayasan Darul Muttaqien Medari. 

Namun, pada era digital ini, disamping melaksanakan dakwah secara "konvensional" berupa tatap muka, kami juga mengambil porsi dan menempuh alternatif dakwah melalui media digital, baik melalui media tulis elektronik blog/website, juga melalui kanal Youtube maupun facebook. Hal ini diharapkan dapat menjangkau segmen yang lebih luas dan dapat diakses setiap saat.

Selain itu, kerja-kerja sosial seperti santunan dan pemberdayaan masyarakat tetap mendapatkan porsi yang seimbang agar dakwah betul betul dapat dirasakan.

Oleh karena itu, dukungan dari semua pihak sangat kami harapkan dengan harapan dapat terus memberikan kemanfaatan yang semakin meluas.

Atas perhatian dan peranserta dari bapak.ibu/saudara kami haturkan terimakasih. teriring doa semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik. Aamiin.   


Sunday, November 4, 2018

Rubah diri, baru minta orang lain berubah
Kisah Handuk Basah di Atas Kasur (dari WAG)

Seorang istri memiliki suami yg punya kebiasaan meletakan handuk basah begitu saja di atas kasur.

Si istri sering ngomel pd suaminya. Suaminya tak berubah.

Cape marah-2, si istri mulai ganti cara dg menyindirnya. “Bagus sekali ada handuk basah di tempat tidur..!!!” ujarnya dg suara sinis.
Atau, “Kapan handuk bisa jalan sendiri ke jemuran....???”

Apakah suaminya berubah.... No..!!!
Bahkan makin sebel sama si istri...

Akhirnya si istri merasa cape, marah sudah, nyindir sudah, tapi tak ada hasilnya.

Mengubah orang lain susah, apalagi untuk hal yg sudah jadi kebiasaan sejak kecil. akhirnya ia mengubah pikirannya sendiri...!!

“Baiklah, handuk basah ini akan menjadi permadani di surga nanti. Makin banyak aku memindahkan handuk basah ke jemuran, makin banyak permadani indahku di surga.”

Setiap melihat handuk basah di kasur si istri tersenyum dan bergegas menjemurnya. Perasaannya bahagia.

Apakah handuknya berubah..??? Tidak..!!! Handuk basah tetap ada di kasur. Yg berubah cara pandang dirinya terhadap Handuk basah tersebut.

Waktu berlalu... si istri kaget. Tak ada lagi handuk basah di kasurnya. Ia sudah lupa sejak kapan ia tak lagi melakukannya.

Rupanya melihat keikhlasan istrinya sang suami tergerak untuk melakukannya sendiri.

Inilah Games of Mind...

Kadang ada hal yang sulit kita ubah pada orang lain. Jika ingin hasil yang lebih baik, maka ubahlah diri kita lebih dulu...

Selamat bermain-main dg pikiran Anda sendiri...
Bahagia, sedih, syukur, mengeluh, semua adalah tergantung diri kita... kitalah yang memilih...!

Wednesday, October 24, 2018

LIbatkan Allah dalam cintamu
SEGITIGA CINTA, BUKAN CINTA SEGITIGA

Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher.

 Ingin agar kisah Anda dengan suami/istri seromantis legenda Romeo dan Juliet? Bagus saja sih, hanya harus diingat: Cinta Romeo dan Juliet itu rapuh. Kenapa? Karena mereka hanya saling bersandar satu sama lain. Romeo dan Juliet terlalu fokus pada diri mereka sendiri, sehingga ketika yang satu mati, yang lain pun ikut menuju kematian. Padahal cinta keluarga mereka masih ada.

 Mungkin Anda juga ingin agar hubungan Anda dengan suami/istri begitu menghanyutkan layaknya kisah “Laila Majnun”? Boleh saja sih, kisah cinta Qais pada Laila memang membawa hanyut perasaan alias bikin baper berat. Bayangkan, sampai Qais berkata, “Setitik debu di terompah yang dipakai Laila lebih aku sukai daripada dunia dan seluruh isinya!” Apa ada istri yang tidak senang bila suaminya bersikap seperti itu padanya? Tetapi.... 

Tetapi ternyata cinta mereka juga tidak kokoh. Kok bisa? Sebab mereka juga tidak berbagi dukungan pada pihak yang lain. Qais hanya bersandar penuh pada Laila, itulah sebabnya saat cintanya terhambat, jiwanya terhuyung-huyung karena tempat bersandarnya hilang. Maka Qais pun dijuluki orang “Laila Majnun” (Tergila-gila pada Laila).

Cinta indah dan romantis yang ditunjukkan novel-novel klasik atau drama-drama serta film adalah cinta yang semu. Kenapa ya begitu? Karena cinta indah dan romantis versi mereka bersandar pada bentuk fisik yang sempurna.

Apa ada tokoh dalam drama Korea yang fisiknya di bawah standar? Tentu tidak ada. Dalam novel karya Shakespeare, gambaran Romeo dan Juliet pun dimulai dari bayangan fisik mereka sebagai remaja yang sempurna.

Karena kebanyakan kita dianugerahi fisik yang standar-standar saja, tentu tak mungkin mengejar keromantisan seindah yang ada di novel atau layar drama. Inilah yang menipu anak-anak alay. Mereka mengejar standar keindahan yang tinggi tanpa mengukur diri. Jadinya bila cintanya dirasa mentok, ekspresi putus asanya pun jadi lebay banget. Cermin mana cermin?

Jadi cinta yang dianggap romantis oleh kebanyakan kita punya 2 kelemahan: sandarannya rapuh dan standarnya tidak terjangkau. Jadi bagaimana ya cara memiliki cinta yang kokoh tetapi juga romantis secara nyata, bukan semu?

Jawabannya: libatkan pihak ketiga.

Eits! Tentu bukan Cinta Segitiga! Yang dimaksud adalah Segitiga Cinta.

Cinta yang kokoh tidak bisa hanya dimiliki antara suami dan istri berdua saja. Ibarat menara besi, ia tidak akan kokoh dan tinggi bila hanya memiliki 2 kaki. Menara besi akan lebih kokoh bila mempunyai 3 kaki. Jadi, cinta sejati yang kokoh itu harus berbentuk segitiga.

Siapa pihak ketiga yang harus dilibatkan? Jawabannya akan membuat hati orang beriman bergetar tapi diremehkan orang yang tak dalam imannya. Pihak ketiga yang harus dilibatkan adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bila hujan lebat datang menimpa cinta sepasang suami istri, Allah lah yang menjadi payungnya. Bila ombak besar datang menghempas cinta suami dan istri gelombang demi gelombang, Allah lah yang menjadi pelabuhan pelindungnya. Bila cinta suami dan istri mulai kabur karena banyaknya air mata kesedihan, Allah yang mencerahkannya lagi, seperti bulan purnama yang muncul berkilau selepas awan berlalu.

Bila Setan mulai menguasai mata seorang suami dengan berkata, “Lihat istrimu, ia sudah tak secantik dulu. Perutnya sudah tak lagi langsing, kulitnya mulai keriput dan rambutnya memutih,” Allah lah yang akan membuat sang suami merespon balik, “Benar begitu, tetapi tahukah engkau kemana semua kecantikannya dulu pergi? Semuanya telah masuk ke dalam hatiku dan menetap selamanya. Beserta semua kecantikan dan kemudaannya dulu lah ia menemaniku berjuang meraih impian kami. Kerasnya perjuangan membuatnya lelah dan kecantikannya memudar. Tetapi senyum dan mata indahnya dulu tetap mekar di hatiku tak lekang oleh waktu. Bila kini ia telah lemah dan terkuras, yang terasa di hatiku adalah rasa kasih dan sayang yang bertambah besar padanya.”

Saat Setan mulai menggoda hati seorang istri dengan berkata, “Menyesal lah engkau telah memilih dia. Waktu mudamu habis dan kecantikanmu pudar hanya demi seorang laki-laki yang tak mampu menyenangkan hatimu dengan harta dan perhiasan walau sekadarnya,” Allah lah yang akan membuat istri balas membisik, “Aku memang menyesal telah bersamanya begitu singkat. Betapa inginnya aku menemaninya berjuang selamanya. Keringat dan debu di dahinya yang kubersihkan setiap kali ia tiba di rumah kami yang sederhana adalah harta dan perhiasan terbesarku dalam hidup ini. Tak ada kebahagiaan yang lebih besar bagiku selain membiarkan wajahnya yang kelelahan terlelap di pangkuanku sambil tersenyum ridha padaku.”

Bila Allah yang menjadi tempat bersandar dan menjadi standar cinta kita pada suami/istri, romantisme dan keindahan cinta menjadi mudah dan terjangkau. Tidak selalu kisah Romeo-Juliet, Qais-Laila dan tokoh-tokoh drama Korea yang romantis.

Tetapi kisah seorang nenek yang menyambut tubuh renta suaminya di sore hari sepulang menarik becak. Memberinya handuk lusuh untuk membersihkan diri, menyuguhkan sepiring nasi dibubuhi garam hasil belanja hemat sepagian, juga sesungguhnya adalah kisah cinta yang sangat indah dan romantis.

Libatkan Allah dalam cinta Anda kepada pasangan, Saudaraku terkasih. Maka bila dituliskan, kisah cinta Anda akan seindah dan seromantis kisah-kisah cinta paling legendaris di dunia.