IBRAHIM
TELADAN UTAMA
Oleh
: H.R. Agung Nugraha, S.Ag., M.A.[1]
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ
وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ قَال اللهُ تَعَالَى فِى
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ اَمَّا بَعْدُ
فَيَاعِبَادَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Allahu
Akbar 2x, …. wa lillahi al-hamd
Hari ini, seluruh
kaum muslimin di penjuru dunia merayakan hari raya idul adha, mengumandangkan
takbir, tahmid dan tahlil diikuti kegiatan penyembelihan hewan kurban.
Sementara para jamaah haji melaksanakan rangkain rukun haji, yaitu melontar
Jumroh Aqobah.
Allahu
Akbar 2x, …. wa lillahi al-hamd
Kaum Muslimin, yang dimulyakan Allah.,
Dalam Surat At-Taubah (9): 36, dijelaskan bahwa
diantara 12 bulan perhitungan tahun hijriyah, ada empat bulan hurum
(mulia), yaitu Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram.
Pada bulan Dzulhijjah, ada beberapa ibadah utama,
yaitu rangkaian ibadah haji, memperbanyak takbir, tahmid dan tahlil,
pelaksanaan puasa ‘Arofah, Sholad Idul Adha, dan penyembelihan qurban. Satu
dengan lainnya saling terkait. Meski
demikian tidak berarti saling menegasikan. Artinya, jamaah haji (bahkan) tidak
melaksanakan puasa arofah dan sholat Id, orang yang tidak berkurban tetap
sah puasa ‘arofahnya, tidak sholat id
bukan berarti kurbannya tidak diterima.
Rangkaian ibadah tersebut tentu mempunyai makna dan
hakikat yang sepatutnya dijadikan rujukan dan pedoman bagi setiap umat Islam
dalam menapaki kehidupan sehari-hari..
Hakikat
Takbir, Tahmid dan Tahlil
Allahu
Akbar 2x, …. wa lillahi al-hamd
Diantara ibadah yang dituntunkan adalah memperbanyak
Takbir, Tahmid dan Tahlil sejak tanggal 9 sampai 13 Dzulhijjah.
Kalimat takbir, Allahu Akbar,
yang dikumandangkan adalah pernyataan, ikrar dan pengakuan hamba bahwa Allah
adalah dzat yang maha besar dan maha kuasa. Ikrar ini juga mengandung pengakuan
bahwa kekuasaan yang kita emban sesungguhnya adalah milik Allah. Allahlah
pemilik kekuasaan sesunguhnya, Allah yang memberi jabatan dan kekuasaan kepada
siapa saja yang dikehendaki, dan mencabut kekuasaan tersebut dari siapa saja
yang dikehendaki. (Ali Imron : 26)
Setelah menetapkan tauhid kepada Allah, kalimat tahlil,
la ilaha illa Allah, yang kita ucapkan adalah pernyataan bahwa tidak ada
dzat yang berhak disembah dan diibadahi selain Allah. Hanya kepada Allah kita
menyembah, berserah diri dan meminta pertolongan.
Adapun kalimat tahmid, wa lillaahi
al-hamd, merupakan pernyataan tulus dari hati yang paling dalam bahwa semua
nikmat yang telah kita terima, baik berupa harta, kesejahteraan dan kebahagian
keluarga serta seluruh kenikmatan hidup ini semua berasal dari Allah. Oleh
karenanya, kita kita senantiasa bersyukur seraya memuji Allah setiap pagi
maupun petang (bukratan wa ashilan).
Takbir, tahlil dan tahmid
yang kita kumandangkan tidak lain adalah ungkapan taqwa yang terhunjam dalam
hati kita. Allah SWT berfirman : “Demikianlah, barangsiapa mengagungkan nama
Allah, sesungguhnya itu adalah ekspresi dari ketaqwaan hati”. (QS Al Hajj
(22): 32).
Allahu
Akbar 2x, …. wa lillahi al-hamd
Nabi Ibrahim merupakan bapak seluruh nabi dan pemimpin
bagi seluruh manusia. Pada diri dan keluarganya, terdapat pelajaran berharga
yang sepatutnya menjadi perhatian kita.
Allah berfirman :“ Dan Ingatlah, ketika Ibrahim
diuji tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan
sempurna. Allah berfirman : Sesungguhnya aku menjadikan engka sebagai pemimpin
bagi seluruh manusia. Dia berkata : dan (juga) dari anak cucuku?”, Allah
berfirman : (benar, tetapi) janjiku tidak berlaku bagi orang-orang zalim’ (Al
Baqarah (2) : 124).
Apabila kita menyimak sejarah nabi Ibrahim, akan kita
dapati pelajaran berharga yang dapat kita petik, serta beberapa hikmah yang
dapat kita ambil dan dapat kita jadikan sebagai panduan kita menjalani
kehidupan, baik dalam perspektif pribadi, keluarga maupun dalam aspek
kepemimpinan.
Diantara pelajaran dan hikmah tersebut antara lain :
1. Tauhid
yang kokoh.
Dalam
surat al An’am (6) : 74-77 tergambar bahwa perjuangan mencari kebenaran sudah dimulai sejak ibrahim
muda. Ia hidup dari lingkungan yang tidak bertauhid. Ayah Ibrahim, Azar
merupakan pembuat patung sekaligus penyembah berhala. Akal dan naluri ibrahim
menolak, kemudian bimbang, hingga akhirnya
meyakini bahwa aktifitas
menyembah berhala merupakan tindakan yang tidak benar. Dan keyakinan bahwa
menyembah berhala adalah kesesatan ia sampaikan kepada ayahnya, Azar.
Pencarian
tuhan terus berjalan, hingga ketika ibrahim menemukan bintang dianggap sebagai
tuhan, bintang berganti bulan, bulan berganti matahari. Semuanya datang dan
pergi dan tidak mampu meyakinkan Ibrahim hingga akhirnya ‘putus asa”, lalu
akhirnya berdoa : Sesungguhnya jika tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku,
pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Akhirnya Ibrahim mendapatkan
keimanan yang kokoh. .
Begitulah
gambaran proses pencarian tuhan hingga ibrahim mendapatkan keyakinan yang benar
dan kokoh terhunjam dalam hatinya.
2. Sabar
Nabi
Ibrahim adalah contoh pribadi yang sabar. Kesabaran Ibrahim mempertahankan
aqidah mendapatkan berbagai penentangan. Tentangan tersebut terus berlanjut
hingga menghadapi Raja Namrut yang membakar Ibrahim. Kesabaran Ibrahim
dilandasi keimanan yang kuat dan kepasrahan total kepada Allah menghadirkan pertolongan dari Allah. Api
yang semestinya membakar Ibrahim menyelisihi hukum alam. Dengan kuasa Allah,
api terasa dingin bagi Ibrahim, dan dia selamat dari keganasan siksa Namrut.
(QS Al Anbiya (21) : 69).
3. Visioner
dan tidak egois
Ketika
Allah menyampakain akan menjadikan Ibrahim sebagai pemimpin atas seluruh
manusia, Nabi Ibrahim tidak egois. Beliau berfikir visioner. Ia meminta kepada
Allah agar bukan hanya dirinya, namun keluarga dan umatnya juga menjadi
pemimpin. Permohonan itu diijabah oleh Allah, sehingga nabi-nabi setelahnya
adalah anak keturunan yang mempunyai silsilah sanad sampai kepada nabi Ibrahim.
(Al Baqarah (2) : 124)
4. Demokratis
Nabi
Ibrahim merupakan sosok ideal dan merupakan pemimpin yang demokratis. Mimpi
berupa perintah menyembelih Ismail yang beberapa kali dialaminya mengokohkan
keyakinannya bahwa hal itu adalah
perintah Allah. Keyakinan akan perintah Allah tidak “membutakan” dirinya
dan tidak serta-merta menjadi otoriter. Ibrahim tidak tiba-tiba menyembelih
anaknya, melainkan “mendiskusikan” mimpinya dan meminta pendapat Ismail. Ia
mendengar pendapat. Dan karena Ismail adalah anak sholeh, maka jawaban Ismail
semakin membenarkan dan menguatkan keyakikan ayahnya dan siap melaksanakan
hingga akhirnya diganti dengan sembelihan yang besar. (Ash-Shaffat (37) : 102)
5. Keluarga
yang taat kepada Allah
Kisah
terkait kokohnya keimanan keluarga Ibrahim sangat tergambar dari peristiwa
kesediaan Islami ketika hendak disembelih berdasarkan mimpi (ru’yan shadiqan)
sang ayah, Ibrahim. Dengan penuh keyakinan bahwa itu adalah perintah Allah,
Ismail menyediakan diri (pasrah kepada Allah) sehingga berkata, “wahai ayahku,
lakukan (perintah Allah tersebut), maka engkau akan mendapatiku termasuk
golongan orang yang bersabar”. (As-Shaffat (37) : 102). Ketataan dan kepasrahan
Ibrahim, Hajar dan Ismail ini merupakan gambaran keluarga ideal, dimana ayah,
ibu dan anak semuanya adalah pribadi yang baik, bertakwa kepada Allah. Dalam
keterangan lain, peristiwa godaan syetan terhadap Ibrahim, ibu Hajar dan Ismail
tersebut diabadikan pada kegiatan lempar jumroh (ula, wustha dan ‘aqabah)
dalam rangkain ibadah haji.
6. Syukur
Dalam
surat Ibrahim (14): 7, Allah berfirman “Dan ingatlah ketika tuhanmu
memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah
(nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingari (nikmat-Ku), maka azab-KU sangat
pedih’
Ayat
ini menunjukkan juga bahwa kepasrahan dan rasa syukur akan berbuah manis.
Totalitas kepasrahan Ibrahim dan Ismail berbuah ganti berupa seekor domba
gemuk. Disembelih dan menjadi syariat kurban hingga saat ini.
Demikian beberapa hikmah yang dapat kita
petik dari perayaan idul adha dan keteladanan Ibrahim beserta keluarganya.
Semoga kita mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita akhiri dengan berdoa, memohon
kepada Allah semoga diberi kekuatan lahir batin mewujudkan keluarga sakinah
dengan senantiasa meneladani keluaarga Nabi Ibrahim.
اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ
وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ
خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا
فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ
الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ اَللَّهُمَّ
أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا
دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى
فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ
وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا
مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ
مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا
مَصَائِبَ الدُّنْيَا.
اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا
وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا
وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى
دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا
وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ
مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ رَبَّنَا اَتِنَا
فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
.jpg)
0 comments: