Wednesday, May 27, 2026

Gunung Sutopo : WUKUF


 

*W U K U F*

_antara Dzuhur dan Ashar  di Arafah, Aku selalu merindukannya_


_______

Yang pernah berhaji ,akan  selalu ingat hari itu , yaitu *Wukuf*, berdiamnya jiwa di hadapan Allah. Bukan sekadar tubuh yang menetap di Padang Arafah, melainkan batin yang perlahan berhenti dari seluruh hiruk dunia. Pada saat itulah manusia seperti dipanggil masuk ke dalam dirinya sendiri, menuruni lorong-lorong sunyi yang selama ini tertutup oleh kesibukan usia. 


Di sana, segala yang tampak megah di dunia perlahan luruh, tinggal seorang hamba kecil yang duduk gemetar di hadapan Tuhannya. Dan di padang itu aku merasa, wukuf bukan lagi ibadah, melainkan peristiwa ruhani ketika langit membuka tirainya sedikit demi sedikit untuk menunjukkan siapa aku dan siapa Dia.


Kesadaran datang seperti angin gurun yang menyentuh pelan wajah yang letih. Tentang dosa-dosa yang diam-diam mengendap di dalam usia, tentang kata-kata yang pernah melukai, tentang langkah-langkah yang menjauh dari cahaya Ilahi, juga tentang ibadah yang kadang masih dipenuhi keinginan dipandang baik oleh manusia. 


Pada hari itu hati seperti dipaksa memandangi dirinya sendiri tanpa tabir. Dan aku pun gemetar oleh satu ketakutan yang sulit dijelaskan, bagaimana jika seluruh taubat ini ternyata belum cukup mengetuk pintu ampunan-Nya.


Namun justru di tengah gentar itu, nama Allah terasa turun begitu lembut ke dalam dada. Ya Rahman, Ya Rahim. Nama-nama indah yang seperti embun bagi jiwa yang lama kehausan. Bukankah Dia yang menerima hamba-hamba penuh noda sebelum air matanya benar-benar jatuh ke bumi. Bukankah kasih sayang-Nya selalu lebih luas daripada seluruh kesalahan manusia. 


Maka di bawah langit Arafah itu aku merasa, bahkan seorang pendosa yang datang dengan hati paling keruh pun masih memiliki jalan untuk kembali dipeluk oleh ampunan-Nya.


Lalu kesadaran bergerak lebih dalam lagi, menyentuh bagian paling tersembunyi dari diri manusia, kesombongan. Betapa sering aku merasa diriku lebih baik, lebih benar, lebih pantas dibanding orang lain, padahal seluruh kemuliaan hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat dicabut tanpa suara. 


Jabatan, penghormatan, ilmu, nama baik, dan pujian manusia, semuanya sering menjadi kabut yang menutupi mata batin. Dan diam-diam hati mengeras tanpa disadari, seperti batu yang terlalu lama dibakar oleh panas dunia.


Maka di dalam wukuf, aku seperti duduk sendiri di hadapan Allah sambil memandangi batinku yang kusut. Aku takut bila kesombongan itu masih hidup di dalam diriku, bersembunyi di balik amal, bersembunyi di balik ibadah, bahkan bersembunyi di balik kata-kata yang terdengar saleh. 


Tetapi di saat yang sama ada harapan yang tumbuh perlahan, bahwa Allah mampu membersihkan hati yang paling keruh sekalipun, sebagaimana hujan membersihkan debu yang melekat lama di dedaunan tua.


Di padang itu doa-doa mengalir lirih. Aku memohon kesehatan bagi tubuh yang akan  rapuh dimakan usia, memohon rezeki halal yang lapang dan menenangkan, memohon anak-anak yang tumbuh dengan akhlak yang baik, keluarga yang teduh, dan kehidupan yang diberkahi. 


Sebab aku hanyalah manusia yang lemah, yang sering kali bahkan tidak mampu menenangkan hatinya sendiri tanpa pertolongan Allah. Tetapi semakin lama aku tenggelam dalam makna wukuf, semakin terasa bahwa *dunia bukan tujuan utama* dari seluruh permohonan itu.


Harta, kemuliaan, kenyamanan, dan panjang usia perlahan tampak kecil di hadapan keagungan Allah. Yang paling dirindukan ternyata hanyalah ridha-Nya. Sebab tanpa ridha-Nya, segala yang dimiliki manusia hanyalah lukisan semu yang indah di permukaan namun sunyi di dasar jiwa. 


Dan pada saat itulah air mata terasa jatuh dengan caranya sendiri. Aku membayangkan akhir kehidupanku, napas terakhir yang misterius, tubuh yang suatu hari akan terbujur sendiri di bawah tanah, serta nama yang perlahan hilang dari ingatan manusia. 


Dari kedalaman hati yang paling sunyi lahirlah satu harapan sederhana, semoga Allah menutup usia ini *dengan husnul khatimah*, dengan kalimat tauhid yang lembut mengalir di ujung napas.


Lalu kerinduan itu bergerak menuju surga. Bukan semata karena sungai-sungainya atau taman-tamannya, melainkan karena di sana ada wajah-wajah yang dirindukan para pecinta Tuhan. Ada para nabi, para syuhada, para wali, dan terutama Rasulullah SAW, manusia agung yang namanya selalu membuat dada bergetar penuh cinta. 


Betapa aku ingin berada dekat dengannya, mendengar salamnya, dan menjadi bagian dari umat yang diakuinya di hadapan Allah.


Wukuf pada akhirnya bukan hanya tentang Arafah. Ia adalah keadaan ketika manusia berhenti dari kesombongannya, berhenti dari kerakusan dunianya, berhenti dari seluruh keakuannya, lalu berdiam di hadapan Allah dengan hati yang runtuh dan air mata yang jatuh perlahan. 


*Dan mungkin di situlah rahasia terbesar kehidupan, bahwa manusia ternyata tidak sedang mencari dunia yang abadi, melainkan sedang mencari jalan agar ketika kembali kepada Tuhannya kelak, ia dapat pulang dengan hati yang teduh, bersih, dan penuh cinta*.


/gs

Sebelumnya
Berikutnya

0 comments: