Monday, January 7, 2019

Yansur : Islam bukan sekedar kepercayaan, tapi juga sosial, ekonomi dan politik
Islam tidak  Hanya Terkait dengan Kepercayaan tetapi juga dengan Masalah Sosial, Ekonomi maupun Politik untuk Memudahkan Ummat Mengabdi Pada Ilahi

Sebagai agama, tentu Islam memiliki perhatian khusus kepada masalah kepercayaan atau keimanan kepada Allah swt. Ketauhidan merupakan hal utama dalam sistem ajaran Islam. Namun bukan berarti Islam  agama yang tidak memiliki perhatian apalagi  mengabaikan  terhadap masalah-masalah di luar kepercayaan, seperti masalah sosial, ekonomi, bahkan politik  sekalipun.

Jika kita perhatikan al-Qur’an, banyak pesan-pesan yang menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap masalah-masalah selain kepercayaan. Bukankah kewajiban mengeluarkan zakat atau anjuran untuk memberikan sebagian harta kepada orang-orang yang membutuhkan merupakan bukti bahwa Islam tidak melepaskan perhatiannya dari masalah sosial dan ekonomi.

Bahkan dalam al-Qur’an dikatakan sebagai orang  yang mendustakan agama apabila  tidak memerhatikan dan tidak menyantuni anak yatim, serta tidak mendorong memberi makan kepada orang-orang miskin. Demikian pesan al-Qur’an dalam Surat Al-Ma’un ayat 1-3.

Begitu pula dengan keberadaan para nabi dan rasul yang berhadapan dengan penguasa-penguasa sombong dan lalim seperti nabi Ibrahim dengan Namrud, Nabi Musa dengan Fir’aun, termasuk Nabi Muhammad saw. ketika menghadapi Abu Jahal dan contoh keberhasilan beliau  membangun masyarakat  berkeadaban di Madinah. Bukankah hal itu cukup megisyaratkan bahwa Islam adalah agama yang harus mengambil peran dalam masalah politik dan kekuasaan.

Jika politik dan kekuasaan, kondisi sosial dan ekonomi telah menghambat dan  menghalangi, atau bahkan telah membaut manusia inkar  dalam mengabdi kepada Allah, ummat Islam  harus mengambil sikap. Sehingga ummat manusia mendapatkan jaminan dan  fasilitas  kemudahan dalam  mengabdi kepada Allah, Dzat yang telah menciptakan dan memfasilitasi seluruh kebutuhan hidup manusia itu sendiri. Salam Yansur.

Sunday, January 6, 2019

Yansur : Pertolongan dan perlindungan Allah atas mukmin
Orang Mukmin Akan Selalu Ditolong dan Dilindungi Allah

Jika sedang membutuhkan pertolongan, yang dicari pasti orang yang sudah kita kenal dan memiliki kedekatan tertentu. Bahkan kita pun mengetahui sikap dan  karakternya sehingga kita anggap dia adalah yang pantas dimintai tolong. Yang ada di benak, jangan sampai pertolongan yang kita terima akan mengurangi independensi, apalagi sampai merusak harga diri.

Kalau bisa orang yang memberi pertolongan itu bukan hanya menolong, tetapi juga mau dan rela melindungi kelemahan kita sekaligus dapat menuntun kita agar bisa melepaskan dari kesulitan yang sedang dihadapi.

Namun hal  itu baru sebatas dugaan, sebab dalam praktiknya tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi kemudian. Manusia bukan subjek yang selalu bersikap dan berlaku lurus dan benar. Sesekali bisa saja terkena godaan untuk melakukan hal yang buruk dan menyimpang, termasuk ketika sedang memberi pertolongan kepada kita. Demikian realitas yang bisa terjadi ketika meminta pertolongan dan perlindungan dengan sesama manusia.

Bagi seorang mukmin, sebelum meminta tolong kepada yang lain, terlebih dahulu akan  minta tolong dan perelindungan kepada Allah.  Sebab “Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman. Dia (terus-menerus) mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan kepada cahaya iman…”. (QS. Al-Baqarah; 257)

Allah begitu dekat dengan orang yang beriman melebihi dekatnya orang-orang yang terdekat dengan kita.  Jika minta kepada-Nya, Dia  akan segera menolong, melindungi dan membantu kita. Bahkan sebelum memohon, Allah sudah mengetahui apa yang kita butuhkan sehingga sebenarnya, Allah telah menyiapkan semua kebutuhan orang yang beriman. Sebab Dia Maha Mendengar lagi Maha mengetahui. Salam Yansur.

Saturday, January 5, 2019

Yansur : Yang kurang itu komitmen, bukan Sumber Daya
Kita tidak Kurang Sumber Daya tetapi yang Kurang adalah Komitmen Keumatan

Beberapa waktu yang lalu, saat sedang menunggu bengkel langganan buka, kami sempat ngobrol dengan seseorang yang sama-sama mau service kendaraan. Berawal dari saling bertanya mengenai  kendaraan masing-masing yang mau diservice, kemudian beralih  tentang pekerjaan, isu politik jelang pemilu, persaingan bisnis, hingga  kondisi ummat, yakni ummat Islam. 

Diantara oborolan yang menarik adalah mengenai kondisi ummat Islam yang  kian hari terasa kian termarjinalkan. Padahal ummat Islam  merupakan penduduk mayoritas. Kami tidak mencari kambing hitam kesalahan. Tapi lebih bicara tentang mengapa ummat yang mayoritas ini semakin melemah.

Jangan-jangan kita ini menjadi ummat yang manja, lebih suka dilayani dari pada melayani, lebih suka diperjuangkan dari pada berjuang. Jika demikian,  memang  siapa yang mau melayani dan mau memperjuangkan ummat ini? Sedikit sekali kemungkinan ummat lain akan memperjuangkannya. Ummat lain tentu akan lebih berjuang untuk ummatnya sendiri.

Bisa jadi kita adalah diantara orang yang tidak menyadari betapa pentingnya ummat, bukan hanya ummat sebagai eksistensi keagamaan tetapi sebagai penyokong kesejahteraan kehidupan. Nampaknya selama ini kita lebih mendahulukuan ego sektoral yang justru merusak keutuhan ummat.  Karenanya kita tidak pernah serius  membaca dan menghitung dan merancang potensi kehidupan ummat.

Padahal, saat ini banyak orang yang justru berlomba-lomba membangun jaringan untuk mengokohkan komunitas. Karena komunitas merupakan asset. Bisnis hari ini dibangun tidak hanya dengan berdasarkan modal tetapi dengan jaringan dan komunitas. Komunitas merupakan pasar potensial yang cenderung  tetap dan panatik. Komunitas akan lebih merasa memiliki terahadap perusahaan dan produk yang ditawarkan. 

Bukankah ummat ini sesungguhnya merupakan potensi jaringan yang amat luas dan merupakan asset terbesar bagi ummat itu sendiri?. Kita bisa membuat toko berjejaring yang bisa melayani ummat. Bukan tokonya yang pertama kali dibuat, melainkan sistemnya atau aplikasinya yang harus  milik ummat. Toko akan berdiri dengan sendirinya setelah sistemnya dibuat dengan baik dan akuntabel, menjadi aplikasi yang bisa didownload sebagai fasilitas untuk share modal, sumber daya, identitas pemilik, sekaligus pasar potensial utama.

Seperti aplikasi Gojek dan Uber, mereka tidak menyediakan kendaran untuk bisnisnya, sebab kendaraan, tenaga kerja disediakan sendiri oleh member. Sementara kelangsungan bisnis transportasi yang sekarang sudah merambah ke semua kebutuhan itu, sepenuhnya berada di tangan konsumen. Besar kemungkinan konsumennya yang  terbanyak di negeri ini adalah ummat Islam.

Saat ini kita sangat membutuhkan “satu aplikasi untuk segala kebutuhan”. Kebutuhan transportasi, pendidikan, hotel, pariwisata, perdagangan, pertokoan dan lain-lain. Kita tidak kurang sumber daya manusia yang mampu membuat aplikasi semacam itu, yang kurang adalah komitmen keumatan. Salam Yansur.

Friday, January 4, 2019

Yansur : Damai itu karena rela, jangan dipaksa
Kedamaian itu Datang karena Kerelaan Bukan Keterpaksaan

Allah menghendaki agar setiap orang merasakan kedamaian dan sesungguhnya kita semua juga  sangat membutuhkan kedamaian itu. Maka agama yang diturunkan untuk menjadi nilai, pandangan, dan  jalan bagi kehidupan manusia beranama Islam yang berarti damai.

Kedamaian tidak akan pernah kita  rasakan di saat  hati dan jiwa tidak tentram. Paksaan adalah  salah satu hal yang membuat jiwa dan hati jauh dari ketentraman dan kedamaian. Oleh sebab itu Allah pun menegaskan bahwa, “Tidak ada paksaan untuk (menganut) agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat…”. Demikian firman Allah dalam al-Qur’an Surat Al-Baqarah 256.

Jika seseorang  sudah mengetahui arah dan tujuan hidupnya, sementara di depan mata telah terbentang jalan yang benar dan lurus menuju arah yang dituju, tentu tidak butuh paksaan. Hati akan rela, senang, dan tenang mengikuti jalan itu karena dijamin tidak akan tersesat. Perjalan pun akan mudah dan selamat sampai tempat tujuan.

Jika ada orang yang tidak mau menelusuri jalan lurus yang terbentang di hadapannya untuk menghantarkan ke tempat  tujuan, pasti ada sesuatu yang keliru dalam diri dan jiwanya. Mungkin karena orientasi hidupnya yang salah atau karena pengetahuan agamanya yang terbatas. Salam Yansur.

Thursday, January 3, 2019

Yansur : Agar baik, biasakan menolak keburukan
Terbiasa dengan Kebaikan akan Mudah Menolak Keburukan dan Terbiasa dengan Keburukan akan Mudah dalam Menolak Kebaikan.

Pada diri manusia, Allah tanamkan dua jalan dan sekaligus kecenderungan, berupa  kejahatan dan ketaqwaan. Sebagaimana tertuang dalam Kitab Suci, “maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya. (QS. Asy-Syams: 8).

Ketaqwaan merupakan jalan dan kecenderungan untuk selalu taat dan setia mengikuti dan menjalankan kebaikan  baik yang bersumber dari hati nurani maupun pesan-pesan Ilahi. Sementara kejahatan merupakan jalan yang menunjukkan sikap perlawanan dan pembangkangan sehingga menjerumuskan manusia pada dosa yang mengundang murka Allah. 

Orang yang memilih jalan ketaqwaan, akan terbiasa dengan amal-amal  kebaikan, telinganya selalu mendengarkan pesan-pesan al-Qur’an tidak senang mendengar kalimat-kalimat buruk.  Di telinganya seolah terpasang sensor yang menolak mendengarkan keburukan.  Jika mendengar kalimat yang buruk hantinya akan gundah, risau, dan tidak menentu.

Sebaliknya orang yang mengikuti jalan kejahatan, hati dan moralnya akan rusak. Dia justru tidak senang dan tidak tenang mendengarkan pesan-pesan kebaikan, apalagi pesan-pesan ayat suci al-Qur’an. Sebab dia sudah bekerjasama dengan setan, makhluk yang sombong dan angkuh menentang titah Tuhan. Salam Yansur.

Wednesday, January 2, 2019

Yansur: tidak pasti, memohonkan kepada yang maha pasti
Jika Tahu Setiap Saat Dihadapkan Pada Ketidakpastian Maka Tetap Memohon dan Berlindung kepada Allah Dzat Pemilik Kepastian

Setiap saat  kita dihadapkan pada ketidakpastian, tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita ke depan. Apakah akan bertemu dengan kebaikan atau keburukan, kesusahan atau pun kebahagiaan.  Kepastian hanya ada pada sunnatullah, berupa hukum sebab akibat. Padahal hukum sebab akibat baru bisa diketahui setelah terjadi dan dapat dipahami melalui proses berulang-ulang. Itu pun baru sebagian kecil dari hukum sebab akibat yang bisa diketahui oleh manusia.

Lebih lagi dengan kemungkinan tergelincirnya iman karena kerap akan mendapat godaan dari musuh bebuyutan yaitu setan yang telah bersumpah untuk menggoda seluruh keturunan Adam hingga akhir zaman. Dia akan menggunakan segala cara dan muslihat yang tidak mudah kita duga, bisa menggoda melalui musuh ataupun kawan dekat supaya kita terperdaya. Hingga, apakah kita tetap menjadi orang beriman atau justru berkoalisi dengan setan.

Karenanya, tidak ada cara lain yang harus kita lakukan kecuali berlindung pada pemilik kepastian, yaitu Tuhan seru sekalian alam. Dia Dzat Yang Maha Hidup yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, yang tidak dikenai rasa kantuk dan tidak pula tidur, yang langit dan bumi beserta isinya berada dalam kekuasaan-Nya.

Allah Dzat Yang Maha Perkasa sehingga tidak ada yang mendapatkan pertolongan kecuali setelah mendapatkan restu-Nya. Bahkan apa yang disampaikan kepada-Nya harus sesuatu yang benar dan haq. Jangan menduga akan mendapat ridla-Nya atas  permintaan yang bertentangan dengan keadilan dan kebenaran yang telah di titahkan-Nya. Salam Yansur.