Tuesday, August 10, 2021

Tuesday, July 27, 2021

Apa itu Isbat Nikah?

Tanya :

Mas, apa bedanya sidang isbat dengan isbat nikah?

Jawab :

Isbat berasal dari bahasa Arab, artinya penetapan. Dalam konteks keagamaan, di Indonesia, kata isbat digunakan setidaknya dalam dua peristiwa penting dan terkait dengan masalah keagamaan. pertama penetapan awal bulan qomariyah atau tahun baru hijriyah. Kedua, penetapan atas sah atau tidaknya perkawinan yang tidak/belum dicatat pernikahannya. 

Ikuti versi videonya melalui link : Sidang Isbat vs isbat Nikah

Sidang Isbat

Sidang isbat  biasanya populer setiap tahun pada akhir bulan Ramadhan untuk menentukan kapan tanggal 1 syawwal dan atau kapan hari raya Idul Fitri. Sebetulnya tidak hanya terkait idul fitri, namun setiap bulan bisa dilakukan dalam setiap pergantian bulan qomariyah. Namun pemerintah biasanya melakukan isbat terkait bulan qomariyah khususnya kapan tanggal satu Muharram, kapan tanggal satu Ramadhan, kapan tanggal satu syawwal, kapan tanggal satu dzulhijjah.

Kita mengenal ada dua metode penetapan bulan Qomariyah, yaitu hisab dan kedua rukyatul hilal.

Hisab dilakukan dengan menggunakan teori dan perhitungan astronomi terhadap posisi bumi dan bulan berputar pada porosnya dan dalam waktu bersamaan berputar mengelilingi matahari. Dengan ilmu pengetahuan dapat diketahui "secara pasti" lebih awal, bahkan beberapa tahun sebelumnya. Meski demikian orang-orang yang menggunakan metode hisab juga melakukan konfirmasi terhadap perhitungan yang telah dilakukan.


هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

Artinya : Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus : 5)


Sedang Rukyatul Hilal dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap bulan, apakah pada hari, tanggal, pukul dan sudut yang telah dihitung berdasarkan metode hisab tersebut apakah betul hilal terlihat atau tidak. Bila terlihat dalam pengamatan maka ditetapkan esuk hari masuk tanggal satu bulan berikutnya. apabila tidak terlihat maka tanggal satu bulan berikutnya ditetapkan lusa.

Bagi umat Islam, perhitungan tanggal bulan qomariyah sangat penting karena terkait penanggalan Islam dan bahkan dengan peribadatan. Kapan puasa asyuro, kapan puasa ramadhan, kapan puasa arofah, kapan idul fitri dan idul adha dimana kita dilarang berpuasa. termasuk kapan puasa ayyamul bidh setiap bulan.

Isbat Nikah

 Isbat nikah adalah proses persidangan di pengadilan Agama untuk menentukan dan menetapkan apakah sebuah pernikahan yang belum dicatat di KUA itu benar dan sah atau tidak. 

Prosedurnya, pasangan suami istri yang "merasa" telah menikah tetapi tidak mempunyai buku nikah mendaftar ke Pengadilan Agama. Kemudian Pengadilan Agama menyelenggarakan sudang dengan menghadirkan suami-istri tersebut serta wali dan saksi-saksi.

Pada awalnya, instrumen dan mekanisme isbat nikah itu diijinkan untuk pernikahan yang dilakukan sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Meski perkawinan telah dicatat bahkan dimasa sebelum kemerdekaan melalu penghulu kraton dan dilanjutkan setelahnya dimasa kemerdekaan,namun belum mengikat kuat. Dengan diterbitkannya Undang-undang perkawinan tersebut diatur kewajiban mencatatkan perkawinan. di masa peralihan atau awal berlakukan Undang-undang inilah dibuka peluang isbat untuk mengesahkan perkawinan yang dilakukan sebelum berlakunya UU No 1 Tahun 1974 untuk kemudian dicatat.   


 

Tuesday, July 20, 2021

Monday, May 24, 2021

Ketentuan Islam terkait Gerhana

 



 Pendahuluan

Allah adalah pencipta dan penguasa segala sesuatu yang ada di alam raya ini. Semua ada didalam kuasa dan kehendak Allah SWT. Tidak terkecuali matahari dan bulan beserta seluruh kejadian yang terkait dengan dua ciptaan tersebut, yaitu pergantian siang dan malam maupun terjadinya gerhana.

Allah berfirman : 


وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya : “Dan dari sebagian tanda-tanda (kekuasaan)-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganla kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya”.  (QS. Fushshilat: 37).

Apabila setiap hari kita berucap hanya kepada-Mu kami beribadah (menyembah) dan hanya kepada-MU kami memohon pertolongan, maka ayat ini menegaskan agar kita tidak mensekutukan Allah dengan ciptaan-Nya.

Peristiwa gerhana, baik gerhana bulan maupun gerhana matahari, ia adalah ketetapan Allah, oleh karenanya semestinya semakin menguatkan keimanan kita kepada Allah SWT.

Baca : Gerhana, ayat Allah di alam semesta

Sejarah Gerhana

Sebagai sebuah fenomena alam, gerhana sebetulnya telah dan akan selalu terjadi atas kehendak Allah. Namun karena kurangnya pengetahuan dan belum sampainya penjelasan, maka persitiwa gerhana mendapat berbagai sikap, bahkan menimbulkan  kepercayaan masyarakat yang salah. Seperti terjadinya gerhana terkait dengan hidup dan matinya seseorang, atau di masyarakat jawa dulu dikenal bahwa gerhana adalah peristiwa matahari atau bulan dimakan butho ijo dan mungkin ada mitos serta kepercayaan lainnya.

Terkait dengan hal tersebut terdapat Riwayat berikut :

عَنِ الْمُغِيرَةِ بنِ شُعْبَةَ قال انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ يوم مَاتَ إِبْرَاهِيمُ فقال الناس انْكَسَفَتْ لِمَوْتِ إبراهيم فقال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ من آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ولا لِحَيَاتِهِ فإذا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حتى يَنْجَلِيَ [رواه البخاري

Artinya : “Dari al-Mughirah Ibn Syu‘bah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Terjadi gerhana matahari pada hari meninggalnya Ibrahim. Lalu ada orang yang mengatakan terjadinya gerhana itu karena meninggalnya Ibrahim. Maka Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah dan kerjakan salat sampai matahari itu terang (selesai gerhana)”. [HR al-Bukhari].

Berdasarkan hadis tersebut, Rasulullah meluruskan dan menjaga aqidah para sahabat bahwa peristiwa gerhana adalah murni karena kuasa dan kebesaran Allah.

Macam Gerhana

Gerhana terdiri dari dua macam, Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan.

Gerhana Matahari : adalah fenomena yang terjadi ketika bulan terletak di antara bumi dan matahari. Kusuf adalah peristiwa dimana sinar matahari menghilang baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari.

Gerhana Bulan : adalah fenomena yang terjadi ketika posisi bumi berada di antara matahari dan bulan. Khusuf adalah peristiwa dimana cahaya bulan menghilang baik sebagian atau total pada malam hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada di balik bumi dan matahari.

Istilah Kusuf maupun khusuf dapat dipakai untuk menyebut peristiwa gerhana matahari maupun gerhana bulan.

Dasar perintah sholat gerhana

عن عَائِشَةَ أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ على عَهْدِ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَبَعَثَ مُنَادِيًا الصَّلاَةَ جَامِعَةً فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ في رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ [رواه البخاري واللفظ له ، ومسلم ، وأحمد

Dari Aisyah (diriwayatkan) bahwa pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, maka ia lalu menyuruh orang menyerukan “ash-shalatu jami‘ah”. Kemudian beliau maju, lalu mengerjakan salat empat kali rukuk dalam dua rakaat dan empat kali sujud [HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad]

عن أبي مَسْعُودٍ قال قال النبي صلى الله عليه وسلم إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ من الناس وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ من آيَاتِ اللَّهِ فإذا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا فَصَلُّوا [رواه البخاري ومسلم

 Dari Abu Mas’ud r.a., ia berkata: Nabi saw telah bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua tanda kebesaran Allah. Maka apabila kamu melihat gerhana keduanya, maka berdirilah dan kerjakan salat [HR al-Bukhari dan Muslim]

Baca : Gerhana : Bukti keagungan Allah

Tidak ada adzan dalan sholat gerhana

عن عَائِشَةَ قالت كَسَفَتْ الشَّمْسُ فَأَمَرَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً فَنَادَى أَنْ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ فَاجْتَمَعَ النَّاسُ فَصَلَّى بِهِمْ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَكَبَّرَ ... ... ... [رواه النسائي

Dari Aisyah ia berkata, terjadi gerhana matahari, maka Rasulullah SAW memerintahkan seseorang memanggil untuk shalat berjamaah (dengan kalimat : Ash-Sholatu Jami’ah). Maka orang-orang berkumpul, lalu Rasulullah SAW shalat Bersama mereka, Bertakbir,….. dst ( An Nasa’i)

Tata cara sholat Gerhana

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَقَامَ وَكَبَّرَ وَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ قَامَ فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً هِيَ أَدْنَى مِنَ الْقِرَاءَةِ اْلأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً هُوَ أَدْنَى مِنَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ سَجَدَ -وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ ثُمَّ سَجَدَ- ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ اْلأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى اسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ وَانْجَلَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ [رواه مسلم].

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi saw, (diriwayatkan) bahwa ia berkata: Pernah terjadi gerhana matahari pada masa hidup Nabi saw. Lalu beliau keluar ke mesjid, kemudian berdiri dan bertakbir dan orang banyak berdiri bersaf-saf di belakang beliau. Rasulullah saw membaca (al-Fatihah dan surat) yang panjang, kemudian bertakbir, lalu rukuk yang lama, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan sami‘allahu liman hamidah rabbana wa lakal-¥amd, lalu berdiri lurus dan membaca (al-Fatihah dan surat) yang panjang, tetapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian bertakbir lalu rukuk yang lama, namun lebih pendek dari rukuk pertama, kemudian mengucapkan sami‘allahu liman hamidah, rabbana wa lakal-hamd, kemudian beliau sujud. [Abu Thahir tidak menyebutkan sujud]. Sesudah itu pada rakaat terakhir (kedua) beliau melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, sehingga selesai mengerjakan empat rukuk dan empat sujud. Lalu matahari terang (lepas dari gerhana) sebelum beliau selesai salat. Kemudian sesudah itu beliau berdiri dan berkhutbah kepada para jamaah di mana beliau mengucapkan pujian kepada Allah sebagaimana layaknya, kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka segeralah salat [HR al-Bukhari].

Baca : Panduan pelaksanaan Sholat Gerhana

Bacaan Jahr

Bacaan dalam sholat gerhana, baik gerhana bulan maupun gerhana matahari dilakukan dengan mengeraskan suara (jahr). Hal itu didasarkan pada dua hadis berikut :

عن عَائِشَةَ أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم جَهَرَ في صَلاةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ في رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ [رواه البحاري ومسلم ، واللفظ له

Dari ‘Aisyah (diriwayatkan) bahwa Nabi saw menjaharkan bacaannya dalam salat khusuf; beliau salat dua rakaat dengan empat rukuk dan sujud [HR al-Bukhari dan Muslim, lafal ini adalah lafal Muslim].

َنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم جَهَرَ بِالْقِرَاءَةِ فِي صَلاةِ الْكُسُوفِ [رواه ابن حبان والبيهقي وأبو نعيم في المستخرج

Dari ‘Aisyah (diriwayatkan) bahwa Nabi saw menjaharkan bacaannya dalam salat kusuf [HR Ibnu Hibban, al-Baihaqi dan Abu Nu‘aim dalam al-Mustakhraj].

Memperbanyak Takbir, melakukan Sholat dan bersedekah, serta beristighfar

َائِشَةَ أنها قالت خَسَفَتْ الشَّمْسُ في عَهْدِ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّى رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالنَّاسِ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ قام فَأَطَالَ الْقِيَامَ وهو دُونَ الْقِيَامِ اْلأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وهو دُونَ الرُّكُوعِ اْلأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ثُمَّ فَعَلَ في الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ما فَعَلَ في اْلأُولَى ثُمَّ انْصَرَفَ وقد انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ الناس فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عليه ثُمَّ قال إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ من آيَاتِ اللَّهِ لاَ ينخسفان لِمَوْتِ أَحَدٍ ولا لِحَيَاتِهِ فإذا رَأَيْتُمْ ذلك فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ... ... ... [رواه البخاري ، واللفظ له ، ومسلم ومالك

Dari ‘Aisyah (diriwayatkan) bahwa ia berkata: Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw. Lalu beliau salat bersama orang banyak. Beliau berdiri dan melamakan berdirinya kemudian rukuk dan melamakan rukuknya, kemudian berdiri lagi dan melamakan berdirinya, tetapi tidak selama berdiri yang pertama. Kemudian beliau rukuk dan melamakan rukuknya, tetapi tidak selama rukuk yang pertama, kemudian sujud dan melamakan sujudnya. Kemudian pada rakaat kedua beliau melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama. Kemudian beliau menyudahi salatnya sementara matahari pun terang kembali. Kemudian beliau berkhutbah kepada jamaah dengan mengucapkan tahmid dan memuji Allah, serta berkata: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, salat dan bersedekahlah... ... ... [al-Bukhari, lafal ini adalah lafalnya, juga Muslim dan Malik].

فإذا رَأَيْتُمْ منها شيئا فَافْزَعُوا إلى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ [رواه البخاري ومسلم عن أبي موسى

Maka apabila kamu melihat hal tersebut terjadi (gerhana), maka segeralah melakukan zikir, do‘a dan istigfar kepada Allah [HR al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa].

Baca : Tuntunan Sholat Gerhana

Siapa yang disunnahkan melaksanakan Sholat Gerhana

Sholat gerhana disunnahkan untuk orang yang mengetahui terjadinya gerhana

فإن صَلاَةَ اْلكُسُوْفِ وَاْلخُسُوْفِ لاَ تُصَلَّى إِلاَّ إِذَا شَاهَدْناَ ذَلِكَ [مجموع الفتاوى

Sesungguhnya salat gerhana matahari dan gerhana Bulan tidak dilaksanakan kecuali apabila kita menyaksikan gerhana itu [Majmu‘ al-Fatawa, 24: 258].

Peristiwa gerhana pada masa sekarang ini tentu tidak sama persis dengan pada masa lalu dimana belum ada lampu-lampu penerangan sehingga peristiwa gerhana dapat dilihat melalui perubahan alam dari terang menjadi gelap.

Saat ini, hampir di seluruh wilayah telah banyak sekali lampu penerang, sehingga peristiwa gerhana tidak begitu teramati. Namun, berdasarkan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, sekarang kita dapat mengetahui kapan terjadi gerhana, wilayah mana saja yang akan mengalami gerhana hingga menit bahkan detik kapan mulai gerhana, puncak gerhana hingga akhir gerhana.

Berdasarkan hal tersebut, maka orang yang berada di wilayah yang terjadi gerhana disunnahkan melakukan sholat gerhana sebagai salah satu upaya menghidupkan sunnah Rasulullah SAW.

Sunday, April 25, 2021

Ustadz. Agung Nugraha : Ibadah yang benar dan berkualitas

 


Banyak ibadah yang telah kita laksanakan. tentu kita berharap semua ibadah tersebut diterima oleh Allah SWT. Agar ibadah kita baik, benar dan berkualitas serta bermakna, setidaknya harus memenuhi 3 (tiga) hal berikut : 1) ibadah tersebut kita laksanakan dengan benar sesuai kaifiyat/tata cara yang telah dituntunkan. Dalam konteks ini mencakup terpenuhinya syarat dan rukun ibadah, termasuk sunnah-sunnah yang terkait, 2) Ibadah tersebut kita pahami hakaketnya, dan 3) ada atsar/bekasnya dari ibadah tersebut. Yang dimaksud atsar mencakup dua hal yaitu esensi ibadah itu bisa kita implementasikan diluar "ritual" ibadah dan dapat kita mudawamahkan pada kesempatan yang berikutnya. Semoga bermanfaat

Sunday, February 7, 2021

Ust. Agung Nugraha : Wakaf dan Perkembangannya

 

Beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo mencanangkan kembali Gerakan Wakaf Uang yang sebelumnya pernah dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Banyka komentar miring terkait hal tersebut. Hal itu diantaranya terjadi karena tingkat kepercayaan kepada pemerintah yang kurang. Kemudian "didukung" ketidakpahaman masyarakat terkait bagaimana sebenarnya konsep dan pengelolaan wakaf uang tersebut. 

Wakaf uang tidak dikelola oleh pemerintah, melainkan oleh Nadzir yang ditunjuk dan dipercaya oleh kaum muslimin sebagai wakif (pihak yang mewakafkan uang). Demikian juga dengan peruntukannya, wakif dapat memilih mauquf alaihi yang akan menerima manfaat dari wakaf uang tersebut.
Pada link berikut, Pilih Program wakaf uang bapak/ibu/saudara dapat mengamanatkan wakaf kedalam program-program yang ditawarkan oleh berbagai lembaga yang ada di indonesia.   

Untuk konsultasi seputar wakaf dapat menghubungi kami di 085743984745 (Agung Nugraha).