Tuesday, June 9, 2026

Gunung Sutopo : Padi & Romantisme

 


*PADI ; BICARA TENTANG ROMANTISME YANG MUNGKIN ADA SCIENCE DAN  POLITISNYA*

_Bahkan ia bercerita tentang kehidupan dan kematian_

Suatu saat saya ziarah ke makam kedua orang tua di Pamakan Manding,Ringinanom yang ada di tepi hamparan sawah yg sedang menguning dan di kejauhan samun terlihat "gunung banyak" ada keindahan yang disembunyikan,ketika aku masih kecil usia SD sampai sekarang.

Dari pematang yang membelah petak-petak sawah itu, mata dapat memandang hingga batas cakrawala yang perlahan dibasuh cahaya pagi. Angin bergerak lembut memainkan ujung-ujung daun padi yang mulai menguning. *Di tempat seperti ini, kehidupan dan kematian terasa tidak sedang berhadap-hadapan, melainkan duduk berdampingan dalam ketenangan yang sama*. 

Di bawah gundukan tanah yang sederhana itu bersemayam manusia-manusia yang *dahulu pernah menanam harapan, mencintai keluarganya, bekerja keras, dan memikirkan masa depan*. Sementara di sekelilingnya, padi-padi tumbuh dengan tenang, mengisi bulir-bulirnya, mempersiapkan kehidupan bagi generasi yang masih melanjutkan perjalanan. Dan di antara keduanya, saya berdiri sebagai seorang peziarah yang sedang belajar bahwa hidup ternyata tidak sepanjang yang sering dibayangkan manusia.

Bagi masyarakat Nusantara dan apalagi buat orang Jawa, *padi tidak pernah sekadar tanaman pangan*. Jauh sebelum ia menjadi angka statistik, komoditas perdagangan, atau bahan perdebatan kebijakan, *padi telah hidup di dalam kebudayaan*. Ia hadir dalam tembang-tembang rakyat, dalam tradisi panen, dalam doa-doa petani yang dipanjatkan menjelang musim tanam, dan dalam cara masyarakat desa memahami hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Karena itu, sawah pada mulanya bukan hanya ruang produksi. Ia adalah ruang kebudayaan.

Di balik romantisme itu, padi juga menyimpan kisah panjang *tentang ilmu pengetahuan*. Setiap bulir yang tumbuh merupakan hasil dari perjumpaan antara kerja alam dan kerja akal manusia. Di dalamnya ada penelitian tentang benih, tanah, air, iklim, hama, hingga teknologi pascapanen. Apa yang terlihat sederhana di atas meja makan sesungguhnya merupakan hasil dari perjalanan ilmu yang panjang, yang sering tidak disadari oleh mereka yang menikmatinya.

Namun sejarah menunjukkan *bahwa ilmu jarang berjalan sendirian*. Ketika padi menjadi sumber pangan utama bagi jutaan manusia, ia memasuki wilayah yang lebih rumit. Ia berubah menjadi komoditas strategis yang dipengaruhi oleh pasar, distribusi, kebijakan, perdagangan, bahkan kepentingan kekuasaan. *Pada titik itu, padi tidak lagi hanya tumbuh di sawah*. Ia juga tumbuh di ruang-ruang rapat, di balik dokumen kebijakan, dan dalam berbagai perdebatan yang sering kali jauh dari lumpur tempat ia pertama kali ditanam.

Di sinilah *ironi itu sering muncul*. Mereka yang paling dekat dengan padi tidak selalu menjadi mereka yang paling menikmati hasilnya. Tangan-tangan yang menanam, merawat, dan memanen sering kali masih bergulat dengan ketidakpastian, sementara *banyak keuntungan justru mengalir kepada mereka yang tidak pernah menyentuh lumpur sawah*. Karena itu, persoalan padi sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang keadilan, keberpihakan, dan kemanusiaan.

Barangkali karena itulah padi selalu menarik untuk direnungkan. *Sebatang padi memuat sejarah peradaban, pengetahuan, kebudayaan, ekonomi, dan politik sekaligus.* Ia mengajarkan bahwa kehidupan tidak pernah sesederhana yang tampak di permukaan. Di dalam satu bulir padi tersimpan kerja petani, kerja ilmuwan, kerja negara, dan kerja alam yang saling bertemu dalam sebuah rantai panjang yang sering tidak terlihat.

Di saat saya masih berdiri di tepi sawah, tidak jauh dari pusara orang tua. Angin terus bergerak melewati bulir-bulir padi yang mulai merunduk, sementara doa-doa yang baru saja dipanjatkan di pasarean terasa masih menggema di ruang batin. *Pada saat seperti itu, padi tidak lagi tampak hanya sebagai tanaman pangan. Ia menyerupai kisah manusia itu sendiri*. Ia tumbuh dari tanah, menyerap kehidupan dari apa yang tidak terlihat, lalu perlahan berisi sebelum akhirnya dipanen. Dan bukankah manusia pun menempuh perjalanan yang serupa?

Lahir dari tanah, menjalani musim-musim kehidupan, mengumpulkan ilmu, harta, kedudukan, cinta, dan berbagai cita-cita, lalu suatu hari kembali menjadi bagian dari tanah yang sama. Di hadapan hamparan sawah dan deretan makam yang sunyi itu, terasa bahwa sejarah, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan politik pada akhirnya hanyalah bagian-bagian kecil dari perjalanan yang lebih besar. *Sebab yang akan tinggal bukanlah seberapa luas sawah yang pernah dikuasai, bukan pula seberapa besar pengaruh yang pernah dimiliki,* melainkan apakah selama hidup seseorang sempat *menjadi manfaat bagi kehidupan* sebagaimana padi yang diam-diam menghidupi begitu banyak manusia. 

Dan sebagaimana bulir padi yang merunduk ketika berisi, barangkali kehidupan yang matang juga selalu ditandai oleh kerendahan hati yang semakin dalam menjelang kepulangannya kepada Allah. Tak terasa airmata berlinang, ternyata manusia diberikan kehidupan di dunia supaya punya arti bagi orang lain dan kehidupan, bukan utk menonjolkan diri. Apakah aku sudah siap ? Jawabannya tidak dirumput yang bergoyang ,tapi hanya pada kita dan sebentar lagi akan ditanya.Siapakan.


*Hermina Yogyakarta, 10 Juni 2026*

Sebelumnya
Berikutnya

0 comments: