Thursday, June 18, 2026

Gunung Sutopo : Pada Sepertiga Malam Terakhir


Ada malam-malam tertentu ketika kesedihan turun tanpa suara, halus seperti embun yang menempel pada daun sebelum fajar. Ia tidak mengetuk, tidak pula meminta izin untuk singgah. Tiba-tiba saja dada terasa penuh oleh sesuatu yang tak mudah diberi nama. Bukan semata duka, bukan pula sekadar resah. Seperti ada kabut tipis yang menyelimuti batin, membuat pandangan ke dalam diri menjadi remang. 

Pada saat-saat seperti itu, manusia sering dipertemukan dengan kenyataan paling purba tentang dirinya, bahwa sedalam apa pun ia memahami dunia, tetap ada ruang dalam jiwa yang hanya dapat dijelajahi dengan kesunyian.


Perasaan yang demikian mempunyai bahasanya sendiri. Ia tidak selalu meminta kata-kata. Kadang ia hadir melalui napas yang sedikit lebih panjang, melalui dada yang terasa sempit oleh beban yang tak sepenuhnya dapat dijelaskan, melalui tatapan yang lama terdiam pada langit malam. Ada kalanya seseorang berada di tengah keramaian, dikelilingi suara, tawa, dan percakapan, tetapi justru merasakan sunyi yang jauh lebih pekat daripada kesunyian itu sendiri. Pada titik itu, diam sering menjadi bentuk kejujuran yang paling lembut.


Lalu air mata jatuh, perlahan, seolah sudah mengetahui jalan pulangnya sendiri. Dalam jalan suluk, air mata bukan sekadar cairan yang keluar dari pelupuk mata. Ia adalah bahasa halus dari ruh yang sedang menyingkap tabir-tabir yang selama ini menutupi kejernihannya. Para salik tua sering memahami bahwa ada tangis yang lahir bukan karena kelemahan, melainkan karena batin sedang disentuh oleh kesadaran yang terlalu dalam untuk dipikul oleh lisan. Air mata seperti itu tidak sekadar membasahi wajah, ia mencuci sesuatu yang lama mengendap di dalam hati.


Pada sepertiga malam, dunia berubah menjadi kitab yang terbuka. Keramaian siang telah surut, hiruk-pikuk manusia melebur ke dalam tidur, dan langit menurunkan kesunyian yang terasa bening. Di jam-jam seperti itu, segala yang selama siang tampak keras perlahan melunak. Ego yang seharian tegak menjaga dirinya mulai melemah. Dinding-dinding batin yang kokoh mulai berpori. Jiwa menjadi lebih mudah mendengar bisikan yang sebelumnya tenggelam oleh gaduh dunia.


Kemudian angin datang, lembut, nyaris tak terdengar. Ia menyentuh kulit sebagaimana tangan seorang ibu menenangkan anaknya yang gelisah. Ia melewati wajah yang basah oleh air mata, merambat ke kedalaman batin, dan membawa kesejukan yang sukar diterjemahkan oleh akal. Dalam dunia para penempuh jalan batin, sentuhan seperti itu kerap dipahami sebagai rahmat yang sedang turun tanpa banyak kata. Seakan semesta sedang berbisik, bahwa tidak setiap kepedihan diciptakan untuk melukai. Ada yang justru dihadirkan untuk melembutkan.


Di kedalaman malam itulah seseorang sering sampai pada pengakuan yang paling jujur. Bahwa yang paling melelahkan dalam hidup bukan selalu beratnya dunia, melainkan kerasnya diri sendiri. Keinginan untuk selalu tampak kuat, selalu benar, selalu sanggup memikul segalanya, sering tanpa disadari menjadi tirai yang menutupi jalan pulang. Padahal di hadapan Yang Mahatinggi, seluruh kemegahan diri akhirnya luruh menjadi kefakiran yang murni. Dan justru di dalam kefakiran itulah manusia menemukan kekayaan yang tak dapat dibeli oleh apa pun.


Barangkali inilah salah satu rahasia malam. Bahwa kesedihan, air mata, dan sentuhan angin sepertiga malam dapat menjadi madrasah sunyi bagi jiwa. Di sana seseorang perlahan memahami bahwa ketenangan tidak selalu lahir dari hilangnya persoalan. Ketenangan tumbuh ketika hati berhenti memaksa dirinya menjadi penguasa atas segala hal. Ketika jiwa rela bersimpuh, ketika air mata selesai berbicara, dan ketika angin malam menyapu sisa-sisa kegelisahan, ada cahaya yang pelan-pelan menyala dari dalam. *Cahaya yang mengajarkan satu rahasia tua, bahwa sering kali yang paling menenangkan bukan jawaban atas semua pertanyaan, melainkan kedekatan dengan Dia yang sejak awal tidak pernah jauh*.

*19/06/2026*

Sunday, June 14, 2026

Gunung Sutopo : Khosyah dan Ilmu


"jika mereka takut, mungkin kita patut malu dengan ketakutan mereka."

Setiap membaca riwayat Ulama klasik zaman dahulu , ada keadaan yang membuat saya terdiam tertunduk malu. Semakin luas ilmu yang Allah anugerahkan kepada mereka, semakin rendah pula cara mereka memandang dirinya sendiri. Semakin banyak manusia datang meminta nasihat, semakin hati-hati mereka berbicara. Semakin tinggi penghormatan yang diberikan kepada mereka, semakin dalam kegelisahan yang mereka simpan dalam kesunyian malam. 

Mereka tidak berjalan bersama ilmu sebagaimana seorang raja membawa mahkota, melainkan sebagaimana seorang penjaga yang dititipi sesuatu yang amat berharga dan takut gagal menjaganya. Dari sanalah saya mulai memahami makna *khosyah*, sebuah getaran batin yang lahir dari kedalaman pengenalan.

*Khosyah* bukanlah ketakutan yang membuat manusia menjauh. Ia justru membuat manusia semakin mendekat. Ia lahir ketika seseorang semakin mengenal kebesaran Tuhan dan semakin menyadari keterbatasan dirinya sendiri. Karena itu para ulama terdahulu tidak pernah merasa sampai pada puncak pengetahuan. Setiap kali satu tabir ilmu tersingkap, mereka justru melihat hamparan keluasan yang belum terjangkau. Semakin banyak yang mereka ketahui, semakin jelas pula betapa sedikit yang sesungguhnya telah mereka pahami.

_Ilmu yang hakiki tidak selalu membuat manusia lebih berani berbicara, tetapi sering membuatnya lebih berhati-hati terhadap dirinya sendiri._

Saya melihat ilmu pada generasi mereka lebih banyak melahirkan kehati-hatian daripada kebanggaan. Mereka takut salah ketika berbicara. Takut menyampaikan sesuatu yang belum benar-benar dipahami. Takut sebuah kalimat yang keluar dari lisannya justru menjadi sebab tersesatnya orang lain. Imam Malik lebih memilih mengatakan "saya tidak tahu" daripada menjawab sesuatu yang belum diyakininya. Sebab bagi mereka, ketidaktahuan yang diakui jauh lebih mulia daripada pengetahuan yang dipaksakan.

Kegelisahan mereka tidak berhenti pada persoalan benar dan salah. Ada ruang yang lebih sunyi di dalam hati mereka. Mereka takut mengetahui sesuatu tetapi tidak mengamalkannya. Takut lisannya fasih mengajak kepada kebaikan sementara dirinya sendiri tertinggal di belakang. Sebab ilmu bukanlah sekadar apa yang tersimpan di dalam pikiran, melainkan cahaya yang semestinya turun ke dalam hati dan menjelma menjadi akhlak. Di mata mereka, *ilmu yang tidak mengubah perilaku hanya akan menjadi saksi yang memberatkan pemiliknya*.

Mereka juga takut kepada pujian manusia. Takut ketika ilmu yang semula menjadi jalan penghambaan berubah menjadi jalan kemasyhuran. Takut ketika nama mulai lebih dikenal daripada amal. Mereka memahami bahwa kesombongan tidak selalu datang dengan suara keras. Ia sering hadir dengan langkah yang sangat halus, lalu berdiam di dalam hati tanpa disadari. Karena itu para ulama terdahulu *lebih sibuk menjaga niatnya sendiri daripada menghitung penghormatan yang diberikan manusia kepada mereka*.

Semakin lama saya merenungkan kisah-kisah mereka, semakin terasa bahwa ilmu  bukanlah  hal yang membuat seseorang sibuk melihat kekurangan orang lain. Ilmu yang justru membuat seseorang lebih sering memeriksa dirinya sendiri. Semakin bening ilmu menerangi batin, semakin banyak debu yang tampak pada dirinya. Karena itu para ulama besar sering dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kerendahan hatinya. *Mereka sadar bahwa manusia dapat tertipu oleh pujian, oleh kedudukan, bahkan oleh ilmunya sendiri*.

Di situlah saya menemukan keindahan *khosyah*. Ia tumbuh *ketika ilmu tidak berhenti di akal, tetapi sampai ke hati*. Dari sanalah lahir kelembutan, kehati-hatian, dan kesadaran yang menjaga manusia dari keangkuhan. Sebagaimana pohon yang sarat buah cenderung merunduk ke bumi, demikian pula ilmu yang matang akan melahirkan keteduhan, bukan kebanggaan. Semakin berat buahnya, semakin rendah dahannya.

"_Pada puncak perjalanannya, ilmu tidak melahirkan rasa memiliki, melainkan rasa kembali_"

*Pakem, 15 Juni 2026*

Tuesday, June 9, 2026

Gunung Sutopo : Padi & Romantisme

 


*PADI ; BICARA TENTANG ROMANTISME YANG MUNGKIN ADA SCIENCE DAN  POLITISNYA*

_Bahkan ia bercerita tentang kehidupan dan kematian_

Suatu saat saya ziarah ke makam kedua orang tua di Pamakan Manding,Ringinanom yang ada di tepi hamparan sawah yg sedang menguning dan di kejauhan samun terlihat "gunung banyak" ada keindahan yang disembunyikan,ketika aku masih kecil usia SD sampai sekarang.

Dari pematang yang membelah petak-petak sawah itu, mata dapat memandang hingga batas cakrawala yang perlahan dibasuh cahaya pagi. Angin bergerak lembut memainkan ujung-ujung daun padi yang mulai menguning. *Di tempat seperti ini, kehidupan dan kematian terasa tidak sedang berhadap-hadapan, melainkan duduk berdampingan dalam ketenangan yang sama*. 

Di bawah gundukan tanah yang sederhana itu bersemayam manusia-manusia yang *dahulu pernah menanam harapan, mencintai keluarganya, bekerja keras, dan memikirkan masa depan*. Sementara di sekelilingnya, padi-padi tumbuh dengan tenang, mengisi bulir-bulirnya, mempersiapkan kehidupan bagi generasi yang masih melanjutkan perjalanan. Dan di antara keduanya, saya berdiri sebagai seorang peziarah yang sedang belajar bahwa hidup ternyata tidak sepanjang yang sering dibayangkan manusia.

Bagi masyarakat Nusantara dan apalagi buat orang Jawa, *padi tidak pernah sekadar tanaman pangan*. Jauh sebelum ia menjadi angka statistik, komoditas perdagangan, atau bahan perdebatan kebijakan, *padi telah hidup di dalam kebudayaan*. Ia hadir dalam tembang-tembang rakyat, dalam tradisi panen, dalam doa-doa petani yang dipanjatkan menjelang musim tanam, dan dalam cara masyarakat desa memahami hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Karena itu, sawah pada mulanya bukan hanya ruang produksi. Ia adalah ruang kebudayaan.

Di balik romantisme itu, padi juga menyimpan kisah panjang *tentang ilmu pengetahuan*. Setiap bulir yang tumbuh merupakan hasil dari perjumpaan antara kerja alam dan kerja akal manusia. Di dalamnya ada penelitian tentang benih, tanah, air, iklim, hama, hingga teknologi pascapanen. Apa yang terlihat sederhana di atas meja makan sesungguhnya merupakan hasil dari perjalanan ilmu yang panjang, yang sering tidak disadari oleh mereka yang menikmatinya.

Namun sejarah menunjukkan *bahwa ilmu jarang berjalan sendirian*. Ketika padi menjadi sumber pangan utama bagi jutaan manusia, ia memasuki wilayah yang lebih rumit. Ia berubah menjadi komoditas strategis yang dipengaruhi oleh pasar, distribusi, kebijakan, perdagangan, bahkan kepentingan kekuasaan. *Pada titik itu, padi tidak lagi hanya tumbuh di sawah*. Ia juga tumbuh di ruang-ruang rapat, di balik dokumen kebijakan, dan dalam berbagai perdebatan yang sering kali jauh dari lumpur tempat ia pertama kali ditanam.

Di sinilah *ironi itu sering muncul*. Mereka yang paling dekat dengan padi tidak selalu menjadi mereka yang paling menikmati hasilnya. Tangan-tangan yang menanam, merawat, dan memanen sering kali masih bergulat dengan ketidakpastian, sementara *banyak keuntungan justru mengalir kepada mereka yang tidak pernah menyentuh lumpur sawah*. Karena itu, persoalan padi sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang keadilan, keberpihakan, dan kemanusiaan.

Barangkali karena itulah padi selalu menarik untuk direnungkan. *Sebatang padi memuat sejarah peradaban, pengetahuan, kebudayaan, ekonomi, dan politik sekaligus.* Ia mengajarkan bahwa kehidupan tidak pernah sesederhana yang tampak di permukaan. Di dalam satu bulir padi tersimpan kerja petani, kerja ilmuwan, kerja negara, dan kerja alam yang saling bertemu dalam sebuah rantai panjang yang sering tidak terlihat.

Di saat saya masih berdiri di tepi sawah, tidak jauh dari pusara orang tua. Angin terus bergerak melewati bulir-bulir padi yang mulai merunduk, sementara doa-doa yang baru saja dipanjatkan di pasarean terasa masih menggema di ruang batin. *Pada saat seperti itu, padi tidak lagi tampak hanya sebagai tanaman pangan. Ia menyerupai kisah manusia itu sendiri*. Ia tumbuh dari tanah, menyerap kehidupan dari apa yang tidak terlihat, lalu perlahan berisi sebelum akhirnya dipanen. Dan bukankah manusia pun menempuh perjalanan yang serupa?

Lahir dari tanah, menjalani musim-musim kehidupan, mengumpulkan ilmu, harta, kedudukan, cinta, dan berbagai cita-cita, lalu suatu hari kembali menjadi bagian dari tanah yang sama. Di hadapan hamparan sawah dan deretan makam yang sunyi itu, terasa bahwa sejarah, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan politik pada akhirnya hanyalah bagian-bagian kecil dari perjalanan yang lebih besar. *Sebab yang akan tinggal bukanlah seberapa luas sawah yang pernah dikuasai, bukan pula seberapa besar pengaruh yang pernah dimiliki,* melainkan apakah selama hidup seseorang sempat *menjadi manfaat bagi kehidupan* sebagaimana padi yang diam-diam menghidupi begitu banyak manusia. 

Dan sebagaimana bulir padi yang merunduk ketika berisi, barangkali kehidupan yang matang juga selalu ditandai oleh kerendahan hati yang semakin dalam menjelang kepulangannya kepada Allah. Tak terasa airmata berlinang, ternyata manusia diberikan kehidupan di dunia supaya punya arti bagi orang lain dan kehidupan, bukan utk menonjolkan diri. Apakah aku sudah siap ? Jawabannya tidak dirumput yang bergoyang ,tapi hanya pada kita dan sebentar lagi akan ditanya.Siapakan.


*Hermina Yogyakarta, 10 Juni 2026*