"jika mereka takut, mungkin kita patut malu dengan ketakutan mereka."
Setiap membaca riwayat Ulama klasik zaman dahulu , ada keadaan yang membuat saya terdiam tertunduk malu. Semakin luas ilmu yang Allah anugerahkan kepada mereka, semakin rendah pula cara mereka memandang dirinya sendiri. Semakin banyak manusia datang meminta nasihat, semakin hati-hati mereka berbicara. Semakin tinggi penghormatan yang diberikan kepada mereka, semakin dalam kegelisahan yang mereka simpan dalam kesunyian malam.
Mereka tidak berjalan bersama ilmu sebagaimana seorang raja membawa mahkota, melainkan sebagaimana seorang penjaga yang dititipi sesuatu yang amat berharga dan takut gagal menjaganya. Dari sanalah saya mulai memahami makna *khosyah*, sebuah getaran batin yang lahir dari kedalaman pengenalan.
*Khosyah* bukanlah ketakutan yang membuat manusia menjauh. Ia justru membuat manusia semakin mendekat. Ia lahir ketika seseorang semakin mengenal kebesaran Tuhan dan semakin menyadari keterbatasan dirinya sendiri. Karena itu para ulama terdahulu tidak pernah merasa sampai pada puncak pengetahuan. Setiap kali satu tabir ilmu tersingkap, mereka justru melihat hamparan keluasan yang belum terjangkau. Semakin banyak yang mereka ketahui, semakin jelas pula betapa sedikit yang sesungguhnya telah mereka pahami.
_Ilmu yang hakiki tidak selalu membuat manusia lebih berani berbicara, tetapi sering membuatnya lebih berhati-hati terhadap dirinya sendiri._
Saya melihat ilmu pada generasi mereka lebih banyak melahirkan kehati-hatian daripada kebanggaan. Mereka takut salah ketika berbicara. Takut menyampaikan sesuatu yang belum benar-benar dipahami. Takut sebuah kalimat yang keluar dari lisannya justru menjadi sebab tersesatnya orang lain. Imam Malik lebih memilih mengatakan "saya tidak tahu" daripada menjawab sesuatu yang belum diyakininya. Sebab bagi mereka, ketidaktahuan yang diakui jauh lebih mulia daripada pengetahuan yang dipaksakan.
Kegelisahan mereka tidak berhenti pada persoalan benar dan salah. Ada ruang yang lebih sunyi di dalam hati mereka. Mereka takut mengetahui sesuatu tetapi tidak mengamalkannya. Takut lisannya fasih mengajak kepada kebaikan sementara dirinya sendiri tertinggal di belakang. Sebab ilmu bukanlah sekadar apa yang tersimpan di dalam pikiran, melainkan cahaya yang semestinya turun ke dalam hati dan menjelma menjadi akhlak. Di mata mereka, *ilmu yang tidak mengubah perilaku hanya akan menjadi saksi yang memberatkan pemiliknya*.
Mereka juga takut kepada pujian manusia. Takut ketika ilmu yang semula menjadi jalan penghambaan berubah menjadi jalan kemasyhuran. Takut ketika nama mulai lebih dikenal daripada amal. Mereka memahami bahwa kesombongan tidak selalu datang dengan suara keras. Ia sering hadir dengan langkah yang sangat halus, lalu berdiam di dalam hati tanpa disadari. Karena itu para ulama terdahulu *lebih sibuk menjaga niatnya sendiri daripada menghitung penghormatan yang diberikan manusia kepada mereka*.
Semakin lama saya merenungkan kisah-kisah mereka, semakin terasa bahwa ilmu bukanlah hal yang membuat seseorang sibuk melihat kekurangan orang lain. Ilmu yang justru membuat seseorang lebih sering memeriksa dirinya sendiri. Semakin bening ilmu menerangi batin, semakin banyak debu yang tampak pada dirinya. Karena itu para ulama besar sering dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kerendahan hatinya. *Mereka sadar bahwa manusia dapat tertipu oleh pujian, oleh kedudukan, bahkan oleh ilmunya sendiri*.
Di situlah saya menemukan keindahan *khosyah*. Ia tumbuh *ketika ilmu tidak berhenti di akal, tetapi sampai ke hati*. Dari sanalah lahir kelembutan, kehati-hatian, dan kesadaran yang menjaga manusia dari keangkuhan. Sebagaimana pohon yang sarat buah cenderung merunduk ke bumi, demikian pula ilmu yang matang akan melahirkan keteduhan, bukan kebanggaan. Semakin berat buahnya, semakin rendah dahannya.
"_Pada puncak perjalanannya, ilmu tidak melahirkan rasa memiliki, melainkan rasa kembali_"
*Pakem, 15 Juni 2026*

0 comments: